Menlu Sempat Ingatkan Condy Soal Freeport dan ExxonMobil
Jumat, 17 Mar 2006 13:35 WIB
Jakarta - Sebelum demo anti-Freeport makan korban, Menlu Hassan Wirajuda sebetulnya sudah mengingatkan Menlu AS Condoleezza Rice soal perusahaan multinasional AS yang ada di Indonesia. Menlu minta Condy mendesak perusahaan-perusahaan itu memperhatikan masyarakat lokal.Imbauan Menlu itu disampaikan saat bertemu Condy pada Selasa 14 Maret lalu di Jakarta."Menlu secara tegas minta agar perusahaan multinasional AS lebih memperhatikan community building," kata Jubir Deplu Desra Percaya di kantornya, Jalan Pejambon, Jakarta, Jumat (17/3/2006).Menurut Desra, perusahaan multinasional AS yang dimaksud adalah PT Freeport Indonesia dan ExxonMobil yang baru saja diputuskan sebagai operator Blok Cepu."Dalam pertemuan dengan Menlu memang tidak khusus disinggung PT Freeport, tapi perusahaan multinasional yang dimaksud ini adalah ExxonMobil dan Freeport," kata Desra.Demo masyarakat Papua yang anti-Freeport berawal dari sikap perusahaan itu yang dianggap tidak memperhatikan masyarakat lokal. Masyarakat lokal hidup dalam kemiskinan, sementara sumber kekayaan alamnya terus dikeruk perusahaan tersebut. Buntutnya, masyarakat Papua minta pemerintah menutup Freeport.Permintaan itu disampaikan lewat sejumlah aksi demo yang telah memakan korban jiwa 4 aparat polisi dan TNI AU.Tolak Ikut PSISoal pertemuan antara Menlu dan Condy, Desra juga mengungkapkan, Condy minta Indonesia ikut serta dalam anggota Proliferation Security Initiative (PSI) untuk mencegah senjata pemusnah massal.Namun Menlu menolak permintaan itu karena beberapa alasan. Alasan itu adalah pelaksanaan PSI yang dianggap membahayakan kepulauan RI, di mana kapal-kapal besar negara-negara maju bisa saja melintasi perairan Indonesia untuk mengecek kapal-kapal lain yang mengangkut senjata kimia.Selain itu PSI juga tidak dilakukan dalam proses multilateral, namun hanya diusung sejumlah negara dan tidak sesuai dengan prinsip hukum internasional.
(umi/)











































