Tardjo: Pemerintah Ndablek Cuekin Pendemo Freeport
Jumat, 17 Mar 2006 11:14 WIB
Jakarta - Tak ada asap kalau tak ada api. Insiden di Universitas Cendrawasih (Uncen) yang menewaskan 4 aparat bukan tanpa sebab. Andai saja pemerintah mau mendengar suara hati pendemo Freeport..."Mereka-mereka itu ndablek. Anak-anak muda demo, tapi mereka (pemerintah) punya telinga tidak mendengar, punya mata tidak melihat," cetus Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/3/2006).Pria yang akrab disapa Mbah Tardjo ini turut menyesalkan tindakan anarkisme dalam demo Freeport di Uncen, Jayapura, Papua, pada Kamis kemarin."Saya menyesalkan adanya sikap seperti itu sehingga menimbulkan korban. Presiden perlu tahu permasalahannya apa adil tidak adil, benar tidak benar," ujarnya.Menurutnya, demokrasi harus harus berlandaskan pada filosofi Pancasila dan UUD 1945, musyawarah untuk mufakat, dan tidak menghakimi.Siapa yang bertanggung jawab? "Yang salah dan bertanggung jawab terhadap lahirnya Freeport," kata Mbah Tardjo.Aparat yang tewas dalam insiden Uncen adalah Petugas Pengendalian Masyarakat (Dalmas) Baratu Daud Sulaiman, Anggota Briptu Arizona dan Brigadir Syamsudin dari Polres Jayapura tewas dalam kondisi menggenaskan. Tubuh mereka hancur diparang dan ditemukan di depan Uncen. Ketiganya sebelumnya sempat disandera pendemo Freeport.Korban pun bertambah menjadi 4 orang. Satu orang prajurit TNI AU ikut menjadi korban keganasan massa dalam insiden Uncen.
(aan/)











































