Temui Megawati, Ketua MPR Dapat Masukan Soal Haluan Negara

Yudistira Imandiar - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 01:05 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menemui Megawati Soekarnoputri selepas Presiden kelima RI itu menjalani sidang senat terbuka pengukuhan gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Pertahanan. Dalam pertemuan itu, mereka mengulas soal haluan negara untuk Indonesia.

Bamsoet, sapaan akrab Ketua MPR, menyatakan dirinya sepakat dengan Megawati yang memandang amandemen terbatas Undang-Undang Dasar Tahun 1945 perlu dilakukan untuk menghadirkan haluan negara. Adapun haluan negara dibutuhkan agar arah pembangunan nasional berjalan baik, terencana, dan berkesinambungan.

"Ibu Megawati tadi menegaskan ada baiknya amandemen UUD Tahun 1945 dilakukan sekali lagi, agar bisa dihadirkan kembali haluan negara. Sehingga, bangsa Indonesia memiliki bintang penunjuk arah pembangunan nasional," kata Bamsoet di kampus Universitas Pertahanan RI, Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/6/2021).

Bamsoet mengatakan Megawati mendukung agar MPR RI memiliki kewenangan menyusun dan menetapkan haluan negara. Putri Proklamator Indonesa itu, sebut Bamsoet, merasakan ketiadaan haluan negara membuat roda pembangunan tidak berjalan lancar.

"Karena ketiadaan haluan negara, pembangunan yang dilakukan Indonesia kerap maju-mundur dalam pembangunan. Maju selangkah, mundur dua langkah. Maju dua langkah, mundur selangkah. Seperti menari Poco-Poco. Keberlanjutan dan kesinambungan antara pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat dengan daerah pun tidak terjadi," papar Bamsoet.

Lebih lanjut, Bamsoet mengapresiasi pengukuhan gelar profesor kehormatan (Guru Besar Tidak Tetap) Ilmu Pertahanan bidang Kepemimpinan Stratejik yang diberikan Universitas Pertahanan Republik Indonesia kepada Megawati. Megawati mengajuk paper berjudul 'Kepemimpinan Presiden Megawati pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004', yang merupakan self reflection terhadap perjalanannya selama memimpin Indonesia.

"Dalam dunia akademik, menulis paper tentang pengalaman pribadi merupakan sebuah kelaziman. Terlebih pengalaman yang disampaikan Bu Mega tersebut berisi banyak pelajaran penting, yang bisa digunakan sebagai bekal bagi para generasi muda dan calon pemimpin bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan multidimensi yang kelak akan dihadapi Indonesia," terang Bamsoet.

Ia mengulas selama memimpin Indonesia Megawati menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial. Di bidang ekonomi, misalnya, Megawati berhasil menaikan pendapatan per kapita bangsa Indonesiad dari sekitar US$ 465 pada tahun 1997, menjadi USD 930 pada tahun 2004.

"Selama kepemimpinan Bu Mega, nilai ekspor Indonesia berhasil naik. Dari US 57,158 miliar pada tahun 2002 menjadi USD 61,02 miliar pada tahun 2003. Berkat kepemimpinamnnya, Bu Mega juga berhasil membawa Indonesia keluar dari krisis energi, setelah berhasil meyakinkan banyak pimpinan perusahaan migas internasional untuk berinvestasi di Indonesia, dengan nilai total mencapai Rp 200 triliun per tahun," rinci Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan Megawati juga berhasil menyelesaian konflik Poso yang telah berlangsung sejak 1998. Ia juga menangani konflik Aceh dan Ambon.

"Beliau jugalah yang mengantarkan Indonesia menerapkan pemilihan presiden-wakil presiden secara langsung oleh rakyat. Sekaligus sukses penyelenggarakan Pemilu Presiden dan suksesi kepemimpinan nasional secara damai, aman, dan kondusif," jelas Bamsoet.

(ega/ega)