Total 14 Anak di Medan Meninggal Positif COVID-19

Ahmad Arfah - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 16:55 WIB
Suasana Rapat Koordinasi Membahas Rencana Sekolah Tatap Muka di Rumah Dinas Gubsu Medan
Suasana Rapat Koordinasi Membahas Rencana Sekolah Tatap Muka di Rumah Dinas Gubsu Medan (Arfah/detikcom)
Medan -

Sebanyak 14 anak dilaporkan meninggal dalam kondisi positif virus Corona atau COVID-19 di Sumatera Utara. Seluruh anak yang meninggal ini berada di Kota Medan.

Hal ini disampaikan tim Satgas COVID-19 Sumut, dr. Inke Nadia D Lubis, saat rapat koordinasi membahas rencana sekolah tatap muka di Sumut. Jumlah anak meninggal ini sejak virus Corona menyebar ke wilayah Sumut.

"Kalau kasus yang meninggal ini sangat sedikit, dan hanya di kota Medan karena rujukannya di kota Medan. Jadi saat ini hanya 14 kasus yang terkonfirmasi," kata Inke saat rapat di rumah dinas Gubsu, Medan, Jumat (11/6/2021).

Dalam paparannya, Inke mencatat ada 2 anak meninggal positif Corona di bawah usia 1 bulan. Selanjutnya 2 anak di usia 1 bulan hingga 1 tahun, 3 anak di usia 1 tahun sampai 5 tahun, 5 anak di usia 5 sampai di bawah 12 tahun, serta 2 anak di usia 12 sampai di bawah 18 tahun.

"Ada karena faktor bayi 4 orang, yang ini menjadi lebih rentan karena usia. Ada juga 5 orang disertai kanker dan 1 karena jantung bawaan. Empat lainnya tidak ada penyakit bawaan," ucap Inke.

Inke juga menjelaskan jumlah anak yang terpapar virus Corona di Sumut. Selama 6 bulan terakhir, kata Inke, hampir 1.800 kasus anak positif Corona.

"Kalau kita lihat total jumlahnya 6 bulan terakhir, 1.700 hampir 1.800 kasus," tutur Inke.

Dari jumlah ini, Inke mengatakan anak sekolah dasar (SD) yang paling banyak terpapar virus Corona. Kemudian disusul anak sekolah menengah atas (SMA).

"Untuk anak-anak di Sumatera Utara siapa yang paling sering kena? Yaitu anak SD 36 persen, lalu anak SMA 25 persen, dengan rasio laki-laki dan perempuan hampir sama," jelasnya.

Dengan jumlah ini, Inke menilai jumlah positif Corona pada anak di Sumut masih tinggi. Dia menduga anak terpapar virus paling banyak saat libur panjang.

"Provinsi kita masih memiliki jumlah kasus meningkat, salah satunya karena libur panjang," jelasnya.

(knv/knv)