Pimpinan Komisi IX DPR: Tarik Rem COVID-19 Supaya Tak Seperti India!

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 14:07 WIB
Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakian Rakyat Charles Honoris meninjau pelaksanaan vaksinasi di Rusun Marunda, Jakarta Utara.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris di Marunda. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris meminta pemerintah pusat kembali menarik rem untuk meredam lonjakan penularan COVID-19 secara nasional. Charles menyoroti peningkatan penularan COVID-19 di daerah pasca-libur Lebaran lalu.

"Kalau Pak Presiden pernah mengungkapkan strategi gas-rem dalam penanganan COVID-19, menurut saya sekaranglah saatnya pemerintah menarik kembali remnya. Entah bentuknya pembatasan sosial atau apapun, yang jelas dengan kondisi penularan seperti sekarang, kita tidak bisa membiarkan masyarakat berkegiatan tanpa batas seperti ini," kata Charles saat meninjau vaksinasi di Rusun Marunda, Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021).

Lonjakan Corona di Kudus dan Bangkalan

Charles menyorot kondisi lonjakan COVID-19 pasca-libur Lebaran yang terjadi di Kabupaten Kudus, Bangkalan, dan yang terbaru di Semarang dan Jakarta. Khusus di DKI Jakarta, katanya, bahkan angka keterisian rumah sakit sudah 59 persen.

"Khusus di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, keterisian sudah 67 persen, dan tiap hari jumlah pasien yang masuk bertambah. Pagi tadi, saya mendapat laporan 400-an pasien masuk Wisma Atlet, ambulans sampai ngantre," kata Charles.

BOR Corona Mengkhawatirkan

Sementara menurut data tingkat keterisian rumah sakit (Bed Occupancy Rate/BOR) per provinsi yang dikeluarkan Kemenkes per Jumat (11/6), Charles menyampaikan tercatat provinsi dengan BOR tertinggi berturut-turut yakni Jawa Tengah (65%), Kalimantan Barat (59%), Jawa Barat (59%), DKI Jakarta (59%) dan DI Yogyakarta (59%).

"Kondisi ini cukup mengkhawatirkan," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Dengan penarikan kembali rem, kata Charles, diharapkan angka penularan COVID-19 kembali landai, sehingga angka keterisian rumah sakit juga menurun. "Kalau pemerintah tidak segera menarik rem, saya khawatir lonjakan penularan semakin menjadi tidak terkendali dan rumah sakit tidak sanggup lagi menampung pasien. Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin kondisi seperti di India terjadi di Indonesia," ujar Charles.

Selain menarik rem, kata Charles, pemerintah juga harus melakukan percepatan vaksinasi COVID-19. Sebab, kesuksesan vaksinasi merupakan jalan utama keluar dari pandemi ini.

"Kondisi kita sekarang kejar-kejaran antara vaksinasi dan laju penularan. Saya berharap seluruh elemen masyarakat bisa berpartisipasi dalam vaksinasi, agar Indonesia segera keluar dari pandemi dan masa-masa sulit ini," ujarnya.

(gbr/imk)