Hari Ulang Tahun Jakarta Diperingati Tiap 22 Juni, Ini Sejarahnya

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 11:02 WIB
Hari Ulang Tahun Jakarta Diperingati Tiap 22 Juni, didasarkan atas perebutan Fatahillah atas Jakarta
Hari ulang tahun Jakarta diperingati tiap 22 Juni, Ini sejarahnya. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Hari ulang tahun Jakarta diperingati setiap tanggal 22 Juni. Tahun ini DKI Jakarta berulang tahun ke-494.

Lalu bagaimana sejarah awal ditetapkannya 22 Juni sebagai hari ulang tahun Jakarta? detikcom merangkumkan informasinya berikut ini:

Sejarah Awal Hari Ulang Tahun Jakarta

Mengutip dari Indonesia.go.id dan wawancara dengan staf Museum Sejarah Jakarta, Jakarta kini menginjak usia 494 tahun. Ibu kota negara ini diketahui melewati sejarah panjang hingga kini bernama Jakarta.

Sekitar abad ke-14, Jakarta dulu bernama Sunda Kelapa. Saat itu memang wilayahnya masuk dalam kekuasaan Kerajaan Padjadjaran. Kata Sunda muncul di Jawa Barat, yaitu pada Prasasti Kebon Kopi II dan Prasasti Cicatih di Cibadak, yang menyebutkan tentang seorang raja maupun Kerajaan Sunda.

Kala itu Sunda Kelapa merupakan pelabuhan tempat singgahnya kapal-kapal dari berbagai negara, seperti India, China, dan Jepang.

"Sunda Kelapa, karena dulu Sunda Kelapa merupakan bagian dari Kerajaan Sunda, yang kerajaannya berada di Bogor dengan rajanya Prabu Siliwangi. Ini namanya Sunda Kelapa karena ini bagian dari Sunda," tutur staf Museum Sejarah Jakarta, Slamet Rusbandi, saat ditemui detikcom di kantornya, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (22/6/2017).

Kemudian Portugis memasuki wilayah Malaka pada 1511 dan mengklaim Sunda Kelapa sebagai bagian dari kekuasannya pada 1522.

Pada 1527, Fatahillah datang dari Kesultanan Demak untuk mengusir Portugis yang menduduki Sunda Kelapa. Ia berhasil merebut Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 dan mengganti nama menjadi Jayakarta. Jakarta diartikan sebagai kemenangan.

Pada 30 Mei 1619, Kota Jayakarta dikuasai oleh Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Nama Jayakarta kemudian diubah menjadi Batavia.

Dalam sejarah, nama Batavia dipakai lebih dari 3 abad, mulai 1619 hingga 1942. Nama Batavia pun berubah setelah pemerintah Jepang menguasai Indonesia.

Dalam 'Jakartaku, Jakartamu, Jakarta Kita' (1987) karya lasmijah Hardi, nama Batavia sempat diganti sebagai Jakarta Tokubetsu Shi pada masa pendudukan Jepang. Nama tersebut diterjemahkan 'jauhkan perbedaan'.

Pergantian nama menjadi Jakarta Tokubetsu Shi bertepatan dengan perayaan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942.

Balaikota BataviaKota Tua Jakarta Foto TropenmuseumBalai Kota Batavia di masa lalu/ilustrasi (Foto Tropenmuseum) Foto: detikcom/Balaikota Batavia/Kota Tua Jakarta

Hari Ulang Tahun Jakarta: Asal Nama Jakarta

Nama Jakarta Tokubetsu Shi tak bertahan lama. Tepat saat Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, nama tersebut diubah kembali menjadi Jakarta.

Menteri Penerangan RIS (Republik Indonesia Serikat) saat itu, yaitu Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, menegaskan bahwa sejak 30 Desember 1949 tak ada lagi sebutan Batavia bagi kota tersebut. Nama ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Di bawah pemerintahan Wali Kota Jakarta Sudiro (1952-1960), nama Jakarta dikukuhkan kembali pada 22 Juni 1956. Sebelumnya, wilayah tersebut masuk dalam Provinsi Jawa Barat.

Pada 1959. Jakarta yang sempat menjadi Kota Praja di bawah wali kota diubah menjadi Daerah Tingkat Satu yang dipimpin oleh Gubernur. Gubernur pertamanya adalah Soemarno Sosroatmodjo.

Pada 1961, status Jakarta diubah menjadi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI).

Penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari ulang tahun Jakarta didasarkan pada momen Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Hal ini tertuang dalam keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956

Melalui PP No 2 Tahun 1961 juncto UU No 2 PNPS 1961 juga dibentuk Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

(izt/imk)