P2G Nilai Ortu Tikam Kepsek di NTT Gegara Uang Komite Bukan Kriminal Biasa

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 21:14 WIB
Kepsek korban penusukan orang tua murid di NTT, DA (59) disemayamkan.
Kepsek korban penusukan orang tua murid di NTT, DA (59) (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Kepala SD Inpres di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial DA (59), tewas ditusuk orang tua (ortu) muridnya. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta kasus ini diproses secara hukum.

"Oknum orang tua yang melakukan tindakan kriminal, kami harap ditindak sesuai hukum yang berlaku," ujar Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri, dalam keterangan tertulis, Kamis (10/6/2021).

Iman menilai kasus ini bukan tindak kriminal biasa, namun dipicu adanya masalah struktural. Dia mempertanyakan dana BOS dan kondisi keuangan sekolah.

"Persoalan ini bukan hanya tindakan kriminal biasa. Penyebab peristiwa ini adalah masalah struktural. Jangan-jangan dana BOS daerah dan BOS pusat tidak cair? Ini jelas bertentangan dengan cita-cita pendidikan nasional kita," kata Imam.

Dia mengatakan pihak sekolah tidak boleh melarang siswa mengikuti ujian. Menurutnya, berdasarkan Permendikbud, iuran dari sekolah tidak boleh dilakukan kepada peserta didik yang tidak mampu secara ekonomi.

"Siswa di seluruh negeri ini tidak boleh dilarang mengikuti ujian sekolah, itu hak dasar anak. Apalagi hanya karena tidak membayar iuran komite. Dalam Permendikbud No 44 Tahun 2012 pasal 11, disebutkan bahwa iuran yang dikeluarkan sekolah tidak boleh dilakukan kepada peserta didik atau orang tua/walinya tidak mampu secara ekonomi, dikaitkan dengan persyaratan akademik dan digunakan untuk kesejahteraan anggota komite," tuturnya.

"Kami menyayangkan seharusnya tidak ada lagi siswa yang dilarang ujian hanya karena belum membayar uang komite. Padahal yang namanya sekolah khususnya sekolah negeri di Indonesia dapat dana BOS dan dana BOS Daerah," sambungnya.

Sementara itu, Ketua P2G Provinsi NTT Wilfridus Kado mengatakan kejadian ini membuat trauma para guru di NTT. Wilfridus juga menduga hal ini berkaitan dengan pengelolaan dana BOS.

Dia meminta Bupati atau Pemkab segera melakukan evaluasi skema pengelolaan dana BOS sehingga hal ini tidak kembali terulang.

"P2G Provinsi NTT mendesak Bupati atau Pemkab mengevaluasi skema pengelolaan dana BOS agar tidak lagi mengorbankan siswa dan pendidikan daerah. Jangan sampai peristiwa seperti ini terjadi di daerah lain," ujar Wilfridus.

Sebelumnya, Kepala SD Inpres di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT, DA (59), tewas ditusuk ortu muridnya. Penusukan diduga dipicu rasa tersinggung pelaku karena anaknya diusir.

"Pelaku merasa tersinggung kepada korban," jelas Kabid Humas Polda NTT Kombes Rishian Krisna kepada detikcom, Kamis (10/6).

Penusukan ini terjadi pada Selasa (8/6), sekitar pukul 08.45 Wita. Pelaku berinisial DD (56) melakukan penikaman menggunakan sebilah pisau sangkur.

Krisna mengungkapkan, DD mengaku tersinggung karena sang kepala sekolah mempermasalahkan tunggakan sumbangan komite sekolah. Kepada polisi, DD mengatakan anaknya diusir dari ruang ujian oleh korban.

"Sebelumnya mengusir anak pelaku, ED (10), kelas IV SD, untuk tidak mengikuti ujian semester II atau ujian kenaikan kelas dikarenakan yang bersangkutan belum membayar uang sumbangan Komite Sekolah sebesar RP 1.743.000," terang Krisna.

(dwia/haf)