Kolom Hikmah

Kembali Pada Jati Diri

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 06:41 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pada masa lalu, umat Islam bisa menjadi pelopor peradaban dunia. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa tokoh seperi Ibnu Sina, Ibnu Bathuthah, Ibnu al-Baythar dan Hasan ibn al-Haytsam.

Selama beberapa abad menjadi umat yang paling teguh dalam berpegang pada agama, paling luhur akhlaknya dan paling sempurna kebudayaannya. Semua keunggulan itu menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia dengan wawasan yang luas dalam bidang politik, sosial dan pemikiran.

Hal ini terjadi karena mereka menjalankan syariat dengan keluhuran akhlak dan rasionalitas yang matang, sehingga mereka bisa mengungguli umat lainnya. Pada akhir-akhir ini, umat Islam telah mengalami krisis yang menyerang banyak sendi kehidupan. Terbelenggu dalam kebodohan dan kemiskinan, dekadensi moral dan hedonisme yang merupakan sikap hanya untuk memuaskan syahwat jasmani. Kondisi ini terjadi karena mereka makin menjauh dari nilai-nilai Islam.

Fakta-fakta "kemunduran" atau bisa dikatakan sebagai kelemahan adalah sebagi berikut:

1. Kehilangan identitas (personality). Tahap ini merupakan tahapan tidak tahu identitas dirinya sebagai seorang muslim. Dikisahkan Ada seorang pemuda beragama Islam ditanyakan, "Rukun Iman ada berapa?" Dijawab oleh pemuda itu, "5 apa 7 ya."

Sebagai orang yang beragama Islam harus sudah faham tentang Rukun Iman dan Rukun Islam. Kehilangan identitas ini sejalan dengan makin jauhnya seorang muslim dengan ajarannya. Ini laksana ikan yang jauh dari air, ikan sebagai seorang muslim dan air adalah ajarannya. Ikan akan mengalami kesulitan hanya untuk hidup, apalagi ingin berkembang pasti tidak bisa. Hal ini sudah merupakan penyimpangan dari tujuan yang hendak dicapai. Adapun yang paling berbahaya adalah "kehilangan arah."

2. Lupa diri. Sesuai firman Allah Swt, "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." ( QS. al-Hasyr [ 59 ] : 19 ). Kita jumpai beberapa kejadian di masyarakat, di mana diperlihatkan ada beberapa elite muslim yang mempunyai kecenderungan mengikuti arah angin, bisa ke kanan atau ke kiri, ke arah timur atau ke barat. Mereka telah menjauh dari jalan orang-orang yang diberi nikmat Allah.

Ini merupakan akibat melupakan Allah, tidak menyuruh berbuat kebaikan dan tidak mencegah dari yang munkar. Bahwa Allah sudah mengingatkan untuk bersatu pada umatnya, namun fakta saat ini mereka terpecah belah seperti menghadapi persoalan agresi Israel pada Palestina. Firman Allah Swt, "Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS. al-Anbiya' [ 21 ] : 92 ). Terpecahnya saat ini salah satu penyebabnya ada "ketergantungan" pada pihak tertentu.

Ketergantungan ini menunjukkan adanya kelemahan belum ketemu solusinya atau bisa juga karena kemalasan mencari jalan keluar. Coba kita simak pernyataan Amirul Mukminin Umar bin Khathab, "Awalnya kami adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Swt memuliakan kami dengan agama Islam. Kendatipun kita senantiasa mencari kemuliaan, namun tanpa agama Islam Allah akan tetap membuat kita hina dina!"

3. Menjadi yang terbelakang. Dalam kemajuan zaman saat ini yang ditunjukkan dengan inovasi teknologi dan lain lain, pada umumnya para penemu bukan dari umat Islam. Umat Islam tidak lagi dapat mengungguli umat-umat lainnya dalam menegakkan kehidupan perekonomian dan militer. Produksi pangan yang menjadi sandaran kehidupan, umat ini belum bisa memenuhinya. Adapun untuk menjaga kedaulatannya, sebagian besar negara berbasis Islam belum mampu memproduksi alat militernya. Bukan bermaksud mengagungkan kejayaan masa lampau, namun fakta bahwa unat Islam pernah menjadi "pencerah dunia" pada masa abad pertengahan.

4. Kemampuan yang ada, belum digunakan secara optimal. Ketertinggalan dikarenakan keterlenaan, yang semestinya dikejar agar bisa memberikan sumbangsih/kontribusi pada peradaban. Namun faktanya umat Islam belum bisa melakukan itu dan masih mempunyai anggapan yang kurang tepat seperti:

a. Kurang menghargai waktu. Dalam praktek kehidupan sehari-hari waktu dianggap sangat murah, banyak terbuang percuma, janji yang mundur, jadwal rapat yang jarang tepat waktu dan lain lain.

b. Kerja dianggap sesuatu yang berat. Bekerja dalam ajaran Islam adalah perintah, bagaimana mau menjadi pribadi yang takwa jika perintah bekerja sulit dilakukan. Sebetulnya kemalasan merupakan musuh kemajuan, maka janganlah bersahabat dengannya.

c. Sumber Daya Manusia belum dianggap sesuatu yang mendatangkan banyak manfaat. Kemajuan suatu bangsa selalu berlandaskan kemampuan mengoptimalkan SDM di negara tsb. Sumber daya alam akan efisien dikelola jika negeri tersebut mempunyai SDM yang unggul.

5. Belum sempurna memanfaatkan anugerah akal. Kemampuan akal umat Islam belum optimal di gunakan, kita cenderung mengtaklid dan jarang berijtihad. Kita hanya mengikuti dan tidak memeloporinya. Lebih senang menukil dari pada berkreasi. Menghafal dan jarang berfikir, yakni menggunakan pemikiran orang lain daripada pemikiran sendiri.

Bagaimana umat kita bisa menemukan sesuatu yang inovatif ? Rasa ingin tahu dan keinginan membaca yang rendah menjadi kendala utama. Pelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara-negara maju dan terjemahkan kedalam bahasa negera setempat. Hal ini memudahkan para generasi muda membuka cakrawala dan dirangsang untuk membuat percobaan-percobaan.

Di samping dorongan insfrastruktur berupa iptek yang sudah dalam terjemahan bahasanya, unsur keberanian berbuat menjadi penting sekali. Adapun perombakan sistem pendidikan menjadi keniscayaan, karena saat ini sistem tersebut justru membantu membentuk rasio taklid bukan berijtihad dan berkreasi. Rangsanglah para generasi muda untuk berlomba menjadi pelopor penemuan baru. Hasil dari sistem pendidikan ini menciptakan pegawai, bukan entrepreneur, bukan peneliti handal. Maka output dari sistem ini menjadikan para lulusannya haus menbaca untuk mengetahui temuan-temuan baru.

Inti dari semua kelemahan ini adalah, meninggalkan atau sudah menjauh dari pesan-pesan yang diberikan dalam Al-Qur'an dan sunah Rasulullah Saw. Erosi terhadap spiritual dan akhlak yang terjadi dalam sebuah masyarakat pasti akan berakibat terputusnya anugerah Ilahi. Tiada lain solusi yang harus dijalankan yaitu, kembali ke jati diri sebagai seorang muslim. Laksanakan perintah dan jauhi hal-hal yang dilarang serta bertawakallah pada Allah. Maka jadikanlah semboyan persatuan dan kemajuan, sementara sumber kekuatan kita adalah iman dan kebenaran. Semoga Allah akan memberikan petunjuk-Nya menuju kehidupan yang aman, damai dan berkemajuan.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)