Survei LSI: 74,3% Responden Tak Setuju Bom Bunuh Diri
Kamis, 16 Mar 2006 17:01 WIB
Jakarta - Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) terhadap 1.200 responden di 33 provinsi menemukan 74,30 persen responden tidak menyetujui bom bunuh diri dan bentuk kekerasan lain terhadap sasaran sipil dapat dibenarkan demi membela Islam dari musuh-musuhnya. Hanya 0,5 persen yang mengatakan selalu dapat dibenarkan.Demikian laporan hasil survei LSI yang disampaikan oleh Anies Baswedan di Hotel Sari Pan Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (16/3/2006).Sebanyak 8 persen responden memandang tindak pengeboman oleh Imam Samudera dan kawan-kawan dibolehkan sebagai bentuk perlawanan umat Islam terhadap Barat.Selain itu 77,6 persen responden mengatakan putusan hukuman mati oleh pengadilan terhadap Imam Samudera, Amrozi dan Muklas adalah adil dan sangat adil.Mengenai pandangan cara mengemukakan ketidaksetujuan terhadap AS, 42 persen responden tidak mendukung demonstrasi menentang AS dan 31 persen mendukung.Survei juga menemukan 62 persen responden berpendapat kebudayaan Barat lebih banyak membawa keburukan bagi umat Islam di Indonesia. Dikatakan Anies, 47,4 persen responden mengaku mengetahui adanya Front Pembela Islam (FPI), tiga kali lebih banyak daripada mengetahui Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang hanya mendapat 12,1 persen responden. Yang tertinggi adalah NU diketahui oleh 86 persen responden, Muhammadiyah 83,4 persen.Sosiolog UI Imam B Prasodjo dalam kesempatan itu mengkritik metode yang digunakan dalam survei LSI tersebut. Dalam temuan LSI yang mengatakan 62 persen responden bahwa kebudayaan Barat membawa keburukan, maka harus dijelaskan lebih lanjut mengenai kebudayaan seperti apa yang dimaksud. Imam juga menanyakan definisi radikal dalam survei tersebut karena sebenarnya definisi radikal bersifat relatif.Dia menyarankan perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut dalam bentuk penelitian kualitatif karena banyak muncul pertanyaan baru.
(san/)











































