Hensat: Yang Paksakan Jabatan Presiden 3 Periode Pengkhianat Reformasi

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 12:05 WIB
Hendri Satrio (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom)
Hendri Satrio (detikcom)
Jakarta -

Wacana jabatan presiden tiga periode mencuat ke publik. Namun, wacana ini dinilai sebagai pengkhianat reformasi.

Pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio atau Hensat menyebut ada sejumlah agenda utama reformasi. Salah satu tujuan utama reformasi itu adalah membatasi masa jabatan presiden sebanyak dua kali.

"Tujuan reformasi itu cuma satu sebetulnya, tujuan lain itu tujuan tambahan-tambahan saja. Nah tujuan utamanya itu adalah membatasi periode presiden tidak lebih dari 2 kali," kata Hensat kepada wartawan, Kamis (10/6/2021).

Era reformasi dimulai sejak 1998, yang kala itu masyarakat Indonesia ingin rezim Soeharto tumbang. Sebab, kekuasaan di era Orde Baru terpusat dan marak praktik korupsi.

Hensat menilai pihak yang memaksakan jabatan presiden lebih dari dua kali patut dicurigai. Sebab, dapat diduga pihak tersebut mengkhianati reformasi.

"Jadi kalau ada yang memaksakan periode presiden lebih dari dua kali, maka bisa diduga orang ini adalah pengkhianat reformasi," ujar Hensat.

Selain itu, pihak yang memaksakan masa jabatan presiden tiga periode dinilai ingin menyuburkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Presiden Jokowi sendiri menolak mentah-mentah wacana jabatan presiden tiga periode.

"Kemudian pengen banget KKN tumbuh subur lagi di Indonesia. Kemudian yang ketiga menjerumuskan Pak Jokowi, orang Pak Jokowi sudah ngomong dia tidak bersedia kok tiga periode," ucap Hensat.

"Ini hati-hati ini tipikal (mendorong tiga periode) ini kedewasaan berpolitik Indonesia," imbuhnya.

(rfs/gbr)