Syukuran Seabad Soeharto, Titiek Merasa Sang Ayah Sedih Melihat RI Sekarang

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 08 Jun 2021 22:37 WIB
Titiek Soeharto.
Titiek Soeharto (Farih/detikcom)
Jakarta -

Anak Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), membandingkan pemerintahan Indonesia saat ini dengan era Soeharto. Titiek menilai RI mengalami kemunduran dengan utang negara.

Hal itu disampaikan Titiek seusai acara syukuran 100 tahun kelahiran Soeharto di Masjid Agung At Tin TMII, Jakarta Timur, Selasa (8/6/2021). Titiek mengajak masyarakat Indonesia meneladani kiprah Soeharto dalam membangun bangsa Indonesia.

"Ya alhamdulillah hari ini kita bisa mensyukuri 100 tahun kelahiran Pak Harto. Mudah-mudahan kita bisa meneladani kiprah apa yang sudah beliau buat untuk bangsa ini," kata Titiek di lokasi.

Dia menyebut Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah (Tien Soeharto), sepanjang hidupnya diabdikan untuk kepentingan menyejahterakan rakyat Indonesia. Dia meminta masyarakat senantiasa mendoakan Soeharto dan Tien Soeharto.

"Minta doaanya untuk Pak Harto, Bu Tien, agar beliau bahagia di sana dan juga kita senantiasa berdoa mudah-mudahan Pak Harto juga bisa minta ke yang maha kuasa di sana supaya bisa menolong bangsa ini, terlepas dari masalah-masalah yang ada kita hadapi sekarang ini," ucap Titiek.

Dia menyebut Soeharto akan merasa sedih melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Menurutnya, apa yang telah dibangun Soeharto saat memimpin negeri ini tidak mengalami kemajuan.

"Saya rasa bapak (Soeharto) sedih melihat keadaan kita seperti ini. Apa yang sudah beliau bangun selama ini kok kelihatannya tidak maju, agak sedikit mundur. Hutang yang tadinya berapa, sekarang udah ribuan triliun," ujarnya.

Untuk diketahui, utang pemerintah Indonesia kini sudah mencapai Rp 6.527,29 triliun per April 2021. Dengan jumlah tersebut, rasio utang pemerintah mencapai 41,18% terhadap PDB.

Berdasarkan data APBN KiTa, jumlah utang pemerintah itu meningkat Rp 82,22 triliun dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya, yang sebesar Rp 6.445,07 triliun, sebagaimana dikutip Minggu (6/6/2021). Bengkaknya utang pemerintah pusat disebabkan oleh turunnya perekonomian sejak dilanda pandemi COVID-19.

Namun, dalam komposisi utang pemerintah masih tetap dijaga dalam batas tertentu sebagai pengendalian risiko sekaligus menjaga keseimbangan makroekonomi, ketika UU No. 17/2003 mengatur batasan maksimal rasio utang pemerintah adalah 60%.

(fas/idn)