Kejagung Tahan 2 Tersangka Kasus Kredit Bank Syariah di Sidoarjo

ADVERTISEMENT

Kejagung Tahan 2 Tersangka Kasus Kredit Bank Syariah di Sidoarjo

Yulida Medistiara - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 21:19 WIB
Jakarta -

Kejaksaan Agung (Kejagung) menahan 2 orang tersangka terkait kasus pemberian fasilitas pembiayaan sebuah bank syariah cabang di Sidoarjo kepada debitur PT Hasta Mulya Putra. Kedua tersangka ditahan di Rutan Salemba cabang Kejagung selama 20 hari ke depan.

Kasipenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan kedua tersangka itu awalnya diperiksa terlebih dulu oleh penyidik Kejagung sebelum ditahan. Hari ini penyidik mengagendakan pemanggilan terhadap 3 tersangka, namun hanya 2 tersangka yang memenuhi panggilan dan ditahan, yaitu FAR dan PZR.

Berikut 3 tersangka dalam kasus ini:

1. FAR selaku Karyawan Swasta PT. Mega Hidro Energi Surabaya dan Pelaksana Marketing Support/Sales Assistant PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Sidoarjo Tahun 2010 s/d 2014, 2. PZR selaku Manager Operasional PT. Mega Hidro Energi Surabaya dan Kepala Cabang PT. Mandiri Kantor Cabang Sidoarjo Tahun 2007 s/d 2013.
3. Direktur PT. Hasta Mulya Putra Pada tahun 2013, ERO

"Para tersangka tadi sebelum dilakukan penahanan kita lakukan pemeriksaan antigen swab dilakukan penahanan di Rutan Kejagung cabang Salemba di Kejagung selama 20 hari tanggal 7 Juni -26 Juni 2021," ujar Leonard, dalam rilisnya, Senin (7/6/2021).

Kasus ini bermula pada tahun 2013 PT. Hasta Mulya Putra melalui Direkturnya yang bernama tersangka ERO mendapatkan fasilitas pembiayaan dari PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Sidoarjo sebesar Rp. 14.250.000.000 untuk membiayai usaha modal kerja pengerjaan proyek pembangunan Ruko dan perumahan di Kota Madya Madiun.

Fasilitas pembiayaan tersebut dicairkan dalam 3 tahap, yaitu: tahap 1 tanggal 23 Agustus 2013 sebesar Rp.7.500.000.000, tahap 2 tanggal 3 September 2013 sebesar Rp. 2.000.000.000, dan tahap 3 tanggal 3 Oktober 2013 sebesar Rp.4.750.000.000.

Namun pemberian fasilitas pembiayaan tersebut dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan menggunakan 9 bilyet deposito senilai Rp.15.000.000.000,00 milik Lim Chin Hon (warga negara Malaysia) sebagai jaminan/agunannya. Penggunaan deposito sebagai jaminan dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Lim Chin Hon selaku pemiliknya.

"Hal tersebut dapat terjadi karena adanya peran dari James Kwek (warga negara Singapura) yang menjadi perantara antara Tersangka ERO dengan PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Sidoarjo. Dalam hal ini tersangka PZR (Kepala Cabang) dan Tersangka FAR (Sales Assistant) yang menjanjikan akan memberikan bunga (nisbah/bagi hasil) yang besar kepada Lim Chin Hon. Atas permintaan James Kwek deposito tidak diikat gadai oleh PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Sidoarjo," ungkap Leo.

Selanjutnya untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu Lim Chin Hon mencairkan deposito, maka Tersangka PZR dan Tersangka FAR meminta Tersangka ERO untuk menyerahkan 20 sertifikat SHGB ruko atas nama PT. Hasta Mulya Putra di Pusat Grosir Madiun Jl. Seruni Timur Kota Madya Madiun, Jawa Timur yang dimaksudkan sebagai jaminan pendamping. Selanjutnya tersangka ERO menyerahkannya kepada Tersangka PZR dan Tersangka FAR 20 sertifikat SHGB ruko tersebut tidak diikat hak tanggungan oleh tersangka PZR dan Tersangka FAR.

Sementara itu dana pembiayaan yang telah diterima PT. Hasta Mulya Putra sebesar Rp.14.250.000.000 oleh Tersangka ERO tidak digunakan sebagaimana tujuan diajukan dan diberikannya pembiayaan. Bahkan Tersangka ERO tidak dapat menjelaskan rincian penggunaan masing-masing tahap pencairan fasilitas pembiayaan yang diterimanya, karena PT. Hasta Mulya Putra tidak pernah membuat pembukuan, meskipun dalam akad pembiayaan PT. Hasta Mulya Putra berkewajiban mengelola dan menyelenggarakan pembukuan atas pembiayaan secara jujur dan benar dalam pembukuan tersendiri.

Adapun rinciannya fasilitas pembiayaan yang diterima PT. Hasta Mulya Putra yang digunakan untuk pembangunan perumahan hanya sebesar Rp 1.000.000.000 yaitu untuk pembangunan ruko dan perumahan di Wilayah Caruban Madiun, sedangkan sisanya digunakan untuk usaha pengeboran minyak di Wonocolo.

Adapun Ruko Pusat Grosir Madiun dan Perumahan Rawa Bhakti Residence pada saat pengajuan pembiayaan telah selesai dibangun yakni pada tahun 2011, sedangkan Perumahan Bumi Citra Legacy (BCL) II tidak terdapat pembangunan, hanya ada 1 unit rumah contoh.

2 Tersangka Kasus Bank Bandiri Sidoarjo Ditahan Kejagung2 Tersangka Kasus Bank Bandiri Sidoarjo Ditahan Kejagung Foto: dok. Kejagung

Leonard menyebut serangkaian perbuatan dilakukan ketiga tersangka yaitu, tersangka PZR bersama-sama dengan tersangka FAR dan tersangka ERO. Ketiganya melanggar ketentuan yang berlaku yaitu :
1. SK Direksi Bank Indonesia Nomor 27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995;
2. SE Pembiayaan Nomor 9/013/PEM tanggal 8 Mei 2007, SE Pembiayaan Nomor 9/029/PEM tanggal 26 Juli 2007;
3. SE Pembiayaan Nomor 6/008/PEM tanggal 4 Mei 2004, SE Pembiayaan Nomor 10/016/PEM tanggal 22 Mei 2008;

"Mengakibatkan terjadinya kerugian keuangan negara pada PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Sidoarjo sebesar Rp. 14.004.287.140,03 sebagaimana Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI," ujar Leonard.

Sementara itu, untuk tersangka lainnya yaitu tersangka ERO, awalnya dijadwalkan diperiksa hari ini namun tidak hadir tanpa alasan dan keterangan. Dengan demikian penyidik Kejagung kembali memanggil tersangka ERO pada pekan depan.

(yld/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT