Umur Perusahaan Dunia Makin Turun, Ini Tips Kepemimpinan dari Dirut BRI

Angga Laraspati - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 11:47 WIB
Sunarso
Foto: BRI
Jakarta -

Direktur Utama BRI, Sunarso memberikan pandangannya terkait kepemimpinan di era disrupsi teknologi. Menurutnya, di era ini dibutuhkan seorang pemimpin yang transformatif yang mampu mengikuti perubahan zaman.

Dalam sebuah Leadership Seminar bertema 'Leader's Transformation in The Digital Era: Digital Leadership', Sunarso mengatakan perubahan iklim bisnis dalam beberapa tahun terakhir semakin cepat.

Bahkan membuat banyak perusahaan hampir tutup akibat disrupsi teknologi digital. Hal ini menuntut para pemimpin multinational company untuk lebih waspada dan segera melakukan transformasi agar survive dan tumbuh berkelanjutan di era digital.

Menurut Sunarso, pemimpin yang transformatif diperlukan agar perusahaan dapat merespon tantangan akibat disrupsi digital di tengah pandemi COVID-19 yang telah mengubah lanskap berbagai bisnis model.

Sunarso mengungkapkan teknologi digital memang disruptor yang luar biasa dan umur rata-rata perusahaan dunia saat ini telah menurun secara signifikan. Berdasarkan data S&P 500, rata-rata umur perusahaan diperkirakan pada 2025 hanya berkisar 12 tahun hingga 15 tahun.

Bahkan, perusahaan yang termasuk dalam Indeks S&P 500 sudah berkurang setengah sejak 1960. Untuk itu, Sunarso berharap para pemimpin lebih waspada dalam menghadapi tantangan digital ekonomi.

"Jangan sampai perusahaan yang sudah lama justru ikut masuk dalam jeratan perubahan digital ekonomi saat ini. Dulu, perubahan itu terjadi perlahan, yakni 10 tahun bahkan 20 tahun. Saat ini, perubahan terjadi 5 tahun, 3 tahun, atau 1 tahun. Pemimpin harus aware jangan sampai perusahaan mati perlahan. Bahkan, jangan sampai mati segera," jelas Sunarso dalam keterangan tertulis, Senin (7/6/2021).

Sunarso melanjutkan, untuk merespons berbagai tantangan tersebut dibutuhkan pemimpin yang transformatif (digital leader). Pemimpin tersebut harus mampu mengikuti perubahan zaman, dengan beberapa kriteria/gaya kepemimpinan.

Beberapa di antaranya yakni strategic dan disruptive, bold, courageous dan hungry, customer obsessed, drive the digital conversation, global mindset hingga mampu empowering dan inspiring.

Sunarso menjelaskan gaya kepemimpinan di era digital lebih kontekstual daripada sentral serta tidak membangun kultus individu. Maksudnya, kepemimpinan ditulis oleh sistem bukan oleh sinten (orang per orang).

Pasalnya, akibat disrupsi teknologi digital, program atau rencana bisnis lima tahunan yang disusun oleh perusahaan dapat berubah di tengah jalan. Bahkan di tengah COVID-19, perusahaan mengubah bisnis model agar tetap relevan dengan kondisi dan perubahan digital yang berlangsung dengan cepat.

Dia menambahkan yang lebih penting adalah di dalam corporate plan harus menyediakan ruang yang cukup agile untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian, karena lingkungan yang berubah cepat.

Dia mencontohkan ketika menyusun corporate plan BRI sampai 2022, BRI harus menyesuaikan strateginya pada 2020 karena pandemi dan tahun ini di-review lagi. Tapi yang lebih penting dari itu adalah menyediakan ruang untuk revisi dan penyesuaian-penyesuaian.

Di sisi lain, Menurut Sunarso, digitalisasi memerankan peran penting dalam perubahan bisnis iklim bisnis akhir-akhir ini. Perusahaan di era dulu yang mampu bertahan hanya dengan kekuatan modal.

Namun, perusahaan saat ini justru mengandalkan big data, membuat aplikasi dan membentuk ekosistem.

"Jadi terminologi trickle down economy sudah kurang relevan. Yang ada masif progression, yakni pelaku mikro berjejaring dan membentuk market super power," imbuhnya.

Lebih lanjut, Sunarso mengakui emiten berkode BBRI ini pun sangat aktif melakukan hal transformasi digital. Perseroan melakukan peningkatan kapasitas dan kualitas teknologi informasi. Perseroan memiliki alokasi capital expenditure yang tidak murah untuk meningkatkan potensi digital ini.

Sunarso mengatakan transformasi digital sejauh ini sudah banyak memberi manfaat pada BRI baik dari sisi efisiensi operasional maupun peningkatan pendapatan dari bisnis baru. Dia mencontohkan Agen BRILink BRI saat ini sudah mencapai lebih dari 500.000 agen, naik pesat dari posisi 2015 yang hanya 50.000 agen.

Volume transaksi pun melesat, naik ke Rp 673 triliun pada 2019 dari posisi 2015 sekitar Rp 35 triliun. Bahkan pada periode pandemi tahun lalu volume transaksi agen BRILink mencapai lebih dari Rp 800 triliun.

"Kami pun mendapat fee Rp 788 miliar pada 2019, dan naik menjadi Rp 1,2 triliun pada tahun lalu. Dan jangan lupa ini adalah sharing ekonomi, masyarakat kami perkirakan bisa dapat fee sampai Rp3 triliun," ungkap Sunarso.

Di sisi lain, BRI juga mengembangkan aplikasi BRISPOT untuk memudahkan bisnis proses dan mempercepat proses kredit mikro. Berkat aplikasi ini, BRI mencatat peningkatan produktivitas booking kredit mikro, dari rerata Rp 2,5 triliun per bulan naik menjadi minimal Rp 4 triliun per bulan.

Proses kredit mikro BRI pun sudah menjadi lebih cepat, dari semula 2 minggu, menjadi 2 hari saja dan ternyata overshoot dan kini sudah bisa diproses dalam waktu 2 jam. BRI juga melakukan perubahan kultur di sisi sumber daya manusia.

Kendati demikian, Sunarso mengklaim transformasi digital yang dilakukan BRI tak serta membuat BRI menjadi digital banking. Perseroan lebih memilih menjadi hybrid bank yang lebih seimbang dalam mengikuti adopsi digital masyarakat.

"Kami ini bank rakyat. Rakyat belum semuanya digital. Tapi kami juga tidak lamban dalam bertransformasi," tutupnya.

Sebagai informasi, pada acara yang digelar oleh Bank Indonesia Institute, Kamis (3/6) yang lalu ini hadir juga Komisaris Utama PT Bank Jago Tbk, Jerry Ng. Acara dibuka dengan sambutan dari Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo.

(mul/ega)