Kisah Kakek Tabelo di Polman Puluhan Kilometer Jalan Kaki Jual Tampah

Abdy Febriady - detikNews
Sabtu, 05 Jun 2021 11:18 WIB
Kisah kakek Tabelo di Sulbar berjalan kaki jualan Tampah atau Pinampi.
Kisah Kakek Tabelo di Sulbar berjalan kaki jualan tampah atau penampi. (Abdy/detikcom)
Polewali Mandar -

Hidup di usia senja bukan alasan untuk menyerah. Berbagai cara dapat dilakukan demi bertahan hidup. Seperti yang ditunjukkan Kakek Tabelo. Ia berjualan penampi atau tampah.

Tabelo merupakan pria asal Dusun Toppong, Desa Pulliwa, Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar). Usianya yang sudah 72 tahun tidak menyurutkan semangat pria empat anak ini untuk terus bekerja demi menafkahi keluarga.

Setidaknya, dua kali dalam seminggu, Tabelo harus berjalan kaki belasan hingga puluhan kilometer menjajakan tampah. Usaha ini sudah belasan tahun menjadi sumber penghidupannya. Langkah kakinya yang semakin lemah dan tubuhnya yang sudah membungkuk saat memikul beban di pundak tidak membuat Tabelo berhenti berjualan.

Tidak jarang ia harus menahan rasa sakit di kaki lantaran kerap menyusuri jalan tanpa mengenakan alas kaki. Sesekali ia berhenti, sekadar menghilangkan rasa sakit di kaki sambil melepas lelah dan berharap ada warga yang menghampiri, membeli tampah jualannya.

Tabelo mengaku sengaja berjalan kaki saat berjualan. Selain menghemat biaya, jalan kaki memudahkan dia menjajakan penampi kepada warga. "Saya berjalan kaki karena kita kadang singgah-singgah di kampung. Kalau ada yang bertanya, pasti kita singgah lagi. Kalau cocok harga, mereka beli. Kalau tidak, ya tidak jadi beli," kata Tabelo kepada wartawan di rumahnya, Jumat (4/6/2021) kemarin.

Menurut Tabelo, saat meninggalkan rumah untuk berjualan, tidak jarang dia harus menginap beberapa hari menunggu penampi habis terjual. "Kalau cepat habis terjual, cepat juga pulang. Kalau tidak, terpaksa bermalam. Daripada saya bolak-balik, lebih baik saya tinggal berjualan," ujarnya sembari tertawa.

Kisah kakek Tabelo di Sulbar berjalan kaki jualan Tampah atau Pinampi.Kisah Kakek Tabelo di Sulbar berjalan kaki jualan tampah atau penampi (Abdy/detikcom)

Diakui Tabelo, dalam sekali berjualan, ia membawa sedikitnya sepuluh penampi. Menurut dia, jumlah tersebut sudah sangat banyak, apalagi fisiknya tidak mampu lagi memikul beban berat di pundak.

"Dulu saya bisa bawa lebih banyak, tapi saya sudah tidak kuat memikul kalau terlalu banyak. Jadi seadanya saja," imbuhnya.

Ia mengatakan, untuk satu penampi yang dijual seharga Rp 25 ribu, dia mendapat keuntungan Rp 5.000, tergantung jarak. "Untungnya dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, tergantung jarak dan jumlah penampi yang terjual. Biasa habis 10, biasa juga tidak ada. Jadi saya titip di kampung, nanti saya ambil lagi," beber Tabelo.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.