INDEF Apresiasi NTP & NTUP yang Naik Secara Konsisten

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 19:33 WIB
Petani melakukan panen di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, Selasa (28/7/2020). Sebanyak 400 hektar sawah panen dengan baik.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis kenaikan nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar usaha petani (NTUP) pada bulan Mei 2021. Berdasarkan catatan itu, kenaikan yang dialami terjadi secara konsisten terhitung sejak Oktober 2020 hingga Mei 2021.

Bila menilik angkanya, NTP di bulan Oktober 2020 mencapai 102,25, kemudian pada November mencapai 102,86, Desember 103,25, Januari 103,26, Februari 103,10, Maret 103,29, April 102,93 dan bulan Mei tahun ini mencapai 103,29 atau naik sebesar 0,44%.

Begitupun dengan NTUP yang naik konsisten sejak Oktober 2020, yakni sebesar 102,42. Lalu pada November mencapai 103,28, Desember 104,00, Januari 104,01, Februari 103,72, Maret 103,87, April 103,55 dan Mei bulan ini angkanya mencapai 104,04 atau naik 0,48 persen.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif INDEF, Ahmad Tauhid mengapresiasi tumbuhnya kurva positif nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar usaha petani (NTUP) tahun ini. Menurutnya, kenaikan tersebut sedikit banyaknya ditunjang oleh subsektor perkebunan, terutama harga CPO dunia yang berada di atas rata-rata sejak 3 bulan terakhir.

"Saya melihat kenaikan ini sebagai tanda positif bagi petani secara umum yang ditunjang subsektor perkebunan sebagai akibat kenaikan harga CPO yang tinggi dalam 3 bulan terakhir," ujar Tauhid dalam keterangan tertulis, Kamis (3/6/2021).

Meski demikian, kata Ahmad Tauhid, pemerintah perlu memberi perhatian khusus kepada petani tanaman pangan serta petani ternak. Meski terjadi kenaikan di bulan ini, namun NTP nya masih di bawah 100.

"Artinya tidak cukup baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya kira ini yang perlu diperhatikan," katanya.

Di sisi lain Ketua Prodi Doktoral Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Subejo juga menyambut baik kenaikan NTP dan NTUP pada bulan Mei 2021 yang meningkat 0,44% dan 0,48%.

Menurut Subejo, kenaikan tersebut merupakan kado istimewa bagi kesejahteraan petani sekaligus angin segar terhadap optimisme baru pada sektor pertanian dibawah pimpinan Menteri Syahrul Yasin Limpo. Apalagi, kenaikan NTP dan NTUP terjadi secara konsisten sejak Oktober 2020.

"Capaian NTP dan NTUP ini harus terus dijaga dan didukung dengan berbagai kebijakan dan program yang relevan sehingga tetap stabil bahkan dapat meningkat lebih tajam lagi. Dengan begitu, saya percaya pertanian di bawah pak Menteri dapat mengangkat kesejahteraan petani sebagai garda depan pembangunan pertanian dan penyediaan berbagai bahan pangan akan membaik," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan fenomena konsistensi kenaikan NTP dan NTUP merupakan sebuah indikator kesejahteraan petani perlahan tapi pasti mulai membaik.

Selain itu, konsistennya nilai NTP dan NTUP yang tinggi, menjadi bukti sektor pertanian di tengah pandemi COVID-19 selalu bertumbuh. Kebijakan dan intervensi Kementerian Pertanian dari hulu hingga hilir membuahkan hasil yang positif. Syahrul Yasin Limpo juga mendudukkan kebijakan dengan menjaga keseimbangan intervensi hulu dan hilir.

"Pemerintah menjaga di hulu dengan penyediaan bibit dan alsintan yang tepat. Sedangkan di hilir kebijakan stabilisasi stok dan harga, dimainkan dengan baik di lapangan," jelas.

Intervensi itu dilakukan pemerintah agar petani terjaga semangatnya untuk terus menyediakan pangan bagi 273 juta rakyat Indonesia. Begitu pula, dukungan kuat dari seluruh Pemda dan pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian.

"Capaian yang sangat membanggakan karena dari bulan ke bulan NTP dan NTUP dimana sepanjang 2021 terus melesat. Ini pertanda baik bagi indikator kesejahteraan petani," imbuhnya.

Sebelumnya Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto menjelaskan kenaikan NTP terjadi karena indek yang diterima petani, yaitu sebesar 0,66% mengalami kenaikan lebih besar dari pada indek yang dibayarkan petani yang hanya 0,21%.

Adapun komoditas yang dominan dalam mempengaruhi kenaikan indeks tersebut adalah kelapa sawit, sapi potong, jagung, ayam ras pedaging, kentang, gabah, petai, ayam kampung dan cengkeh.

(prf/ega)