HK Gandeng 2 Startup Lokal Daur Ulang Sampah di Tol Trans Sumatera

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 18:17 WIB
Hutama Karya
Foto: Hutama Karya
Jakarta -

PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) melalui Tim Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) meluncurkan program binaan startup berbasis teknologi pengelolaan sampah organik untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Hutama Karya menggandeng 2 startup lokal dalam program ini, yaitu DIOOLA Indonesia dan REXIC. Kedua startup tersebut merupakan sociopreneur berbasis pengelolaan sampah dan rehabilitasi lingkungan untuk mengelola limbah sampah organik berbasis zero waste. Keduanya juga merupakan finalis ajang Innovation Challenge dan Bussines Summit 2020 yang diadakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) serta didukung oleh Hutama Karya.

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Tjahjo Purnomo menjelaskan untuk tahap pertama, Hutama Karya telah memberikan bantuan modal usaha kepada DIOOLA Indonesia dan REXIC. Modal itu digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan bisnis masing-masing startup dalam mengolah kembali sampah organik di sekitar rest area JTTS.

"Dengan semakin bertambahnya ruas tol yang beroperasi di JTTS, tentunya akan berdampak pada peningkatan jumlah pengunjung rest area yang secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah sampah organik yang berasal dari makanan sisa," ujar Tjahjo dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2021).


"Nah melalui program binaan startup ini, nantinya sampah organik dari makanan sisa di rest area JTTS akan didaur ulang oleh DIOOLA Indonesia dan REXIC sehingga menjadi berbagai produk yang bermanfaat, ramah lingkungan dan bernilai ekonomis di antaranya adalah pupuk organik dan maggot," jelasnya.

Diungkapkannya, dalam jangka waktu 6 bulan ke depan, Hutama karya akan mengevaluasi perkembangan bisnisnya. Jika progresnya positif, pihaknya akan merintis menjadi mitra binaan Hutama Karya.

Lebih lanjut Tjahjo menyampaikan Hutama Karya telah mengacu pada ISO 26000 untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau disebut Sustainable Development Goal (SDGs). Diketahui, keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis, sekaligus kelestarian alam dan lingkungan di dalamnya.


Peluncuran program binaan startup berbasis pengelolaan sampah organik melalui metode biokonversi oleh larva Black Soldier Fly (BSF) ke depan diharapkan dapat mencegah penumpukan sampah berlebih.

Selain itu, dapat mendaur ulang kembali sampah organik yang berasal dari sisa-sisa makanan yang berasal dari para pengguna jalan tol di rest area JTTS dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

Sebelumnya, Hutama Karya sendiri telah melakukan aksi penghijauan di sekitar Gerbang Tol pada seluruh ruas JTTS yang dikelola Hutama Karya.

"Dari berbagai produk yang dihasilkan oleh startup ini, selain mewujudkan lingkungan hijau di sekitar JTTS, juga dapat membantu startup lokal ini untuk naik kelas," ujarnya.

"Kami menargetkan kolaborasi Hutama Karya dengan start-up lokal yang akan kami bina ini dapat segera direalisasikan dan ke depan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk pengelolaan sampah di rest area saja namun di seluruh layanan publik yang dikelola oleh perusahaan," pungkasnya.

(mul/mpr)