Al-Muzammil: RI Tidak Perlu Belajar dari Condoleezza

Al-Muzammil: RI Tidak Perlu Belajar dari Condoleezza

- detikNews
Rabu, 15 Mar 2006 11:23 WIB
Jakarta - Kedatangan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Condoleezza Rice disambut sejumlah demonstrasi. Kedatangan Condy diindikasi sebagai upaya mengajari Indonesia soal penanganan terorisme dan HAM.Menurut Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Al-Muzammil Yusuf, tidak sepantasanya jika pemerintah belajar dari AS soal HAM dan terorisme."Pemerintah dan aparat keamanan harus belajar dari konstitusi, bukan kepada Condoleezza, sehingga gaya-gaya Abu Gharib dan Guantanamo tidak boleh coba-coba diimpor ke Indonesia," kata Al-Muzammil Yusuf kepada detikcom, Rabu (15/3/2006).Al-Muzammil juga menyebutkan bahwa kedatangan Condy ke Indonesia jelas ada misi khusus terkait dengan penguasaan Blok Cepu oleh ExxonMobil."AS menyerang Irak terbukti karena alasan utama dan satu-satunya adalah minyak, alasan-alasan yang lain hanya kamuflase. Sekarang datang ke Indonesia berbarengan dengan isu blok Cepu. Maka sudah jelas motif utamanya.Maka Rice mengaitkan kedatangannya untuk mengajari Indonesia tentang bagaimana cara memberantas terorisme dan cara menghormati HAM," tuturnya.Dalam pandangan dia, tidak pantas AS mengajari Indonesia soal HAM dan terorisme, karena justru AS-lah yang selama ini menjadi pelanggar HAM terbesar di dunia misalnya di Palestina dan Irak.Pelanggaran HAM terbesar di dunia telah dan sedang terjadi terhadap warga Palestina hampir 1 abad dengan dukungan utama AS dan 3 tahun terakhir di Irak dan komandan AS dengan bom pesawatnya yang pada 48 jam pertama serangan ke Irak diperkirakan para ahli berjumlah 4.000 bom yang diluncurkan pesawat canggihnya. Ditambah lagi pelecehan di Abu Gharib dan Guantanamo, apa yang AS bisa ajarkan tentang HAM. "Alih-alih memberantas teroris, kebijakan AS itu sendiri justru memicu berkembangnya terorisme dunia. Maka pemerintah dan aparat keamanan Indonesia tidak perlu dan tidak boleh belajar dari kesalahan Amerika terhadap warga dunia. Apalagi amanat konstitusi Indonesia adalah untuk menghapuskan berbagai bentuk penjajahan di dunia," terang Al-Muzammil Yusuf. (san/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads