Sebut SBY Bapak Bansos, PDIP Dinilai Agresif dan Emosional ke PD

Arief Ikhsanudin - detikNews
Minggu, 30 Mei 2021 07:15 WIB
PDIP akan menggelar Rakornas untuk menyambut HUT ke-46 pada Kamis (10/1/2019) mendatang. Ratusan bendera PDIP merahkan jalanan Jakarta.
Foto: Bendera PDIP (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

PDI Perjuangan (PDIP) menyinggung Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Bapak Bansos Indonesia. Partai Demokrat merespons PDIP dengan menyebut 'Madam Bansos'.

Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam menilai PDIP agresif kepada Partai Demokrat. Umam menyebut PDIP tak perlu terlalu bawa perasaan atau baper dengan masa lalu.

"Agresif tapi berbasis emosional masa lalu, dan itu tidak produktif untuk pembangunan demokrasi dan civic education. Jangan sampai masyarakat diajari untuk menikmati polarisasi berbasis baper (bawa perasaan) masa lalu," ujar Umam saat dihubungi, Sabtu (29/5/2021).

"Sekarang dunianya para generasi muda untuk bersinergi dan berkolaborasi, bukan malah mempertahankan sejarah kebencian yang tidak mendidik begitu," katanya.

Menurut Umam, PDIP bertindak agresif kepada Partai Demokrat karena berada di puncak kekuasaan. PDIP dinilai menganggap tidak ada partai lain yang saat ini menyamai kekuatannya.

"Karena PDIP merasa di atas angin, seolah tak ada kekuatan partai mitra dan oposisi yang mampu mengoreksi soliditas dan kekuatan partainya. Perlu diingat, literasi politik masyarakat Indonesia semakin tinggi, berikan teladan yang baik kepada rakyat, kalau memang berkomitmen untuk membangun demokrasi," katanya.

Pernyataan politik yang disampaikan oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dinilai mencerminkan tindakan politik partai. Namun, bagi Umam, tindakan politik yang ditunjukkan adalah tindakan politik yang negatif.

Ahmad Khoirul UmamAhmad Khoirul Umam (Ari Saputra/detikcom)

"Sikap Sekjen PDIP Hasto itu mengindikasikan bahwa model politik PDIP masih dilandaskan pada sentimen emosional," ujarnya.

Selain itu, soal politik bansos yang disampaikan oleh Hasto, Umam menyebut kebijakan bansos wajar dilakukan. Menurut dia, terjadi krisis keuangan global tahun 2008 yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.

"Jadi, wajar program bansos digunakan oleh negara saat ini untuk menjaga daya beli rakyat, agar konsumsi rumah tangga sebagai komponen pertumbuhan ekonomi negara tidak hancur," katanya.

"Faktanya, sekarang saat ekonomi Indonesia terdampak pandemi, Presiden Jokowi yang juga kader PDIP juga menggunakan pendekatan bansos untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah pandemi," ucapnya.

Lihat juga Video: Cerita Hasto soal SBY Pernah Dijuluki 'Bapak Bansos Indonesia'

[Gambas:Video 20detik]




Selanjutnya
Halaman
1 2