Cerita Istri Mantan Pengawal Sukarno Terancam Diusir dari Kontrakan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 29 Mei 2021 18:48 WIB
Mantan Istri Pengawal Soekarno
Foto: Istimewa
Jakarta -

Elisabeth Koesno sekeluarga sempat putus asa dan tak tahu lagi akan tinggal di mana. Sebab 1 Juni nanti masa sewa kontrakannya di Cimanggis Depok habis. Bahkan, sang pemilik kontrakan sudah mendatangkan pemborong karena rumah itu akan dibongkar.

Elisabeth Koesno merupakan istri mantan pengawal Presiden RI pertama, Serma R Koesno. Tak banyak yang tahu sejarahnya, tetapi Serma R Koesno adalah pengawal pribadi yang ditunjuk langsung oleh Bung Karno pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Roland Anziano, cucu R Koesno menceritakan kakeknya dipilih oleh Bung Karno lantaran pernah berjuang bersama di sejumlah peperangan masa kemerdekaan. Koesno merupakan anggota pasukan dari Jendral Soedirman.

"Waktu itu namanya Pasukan Pengawal Presiden, belum ada ajudan. Opa saya dipilih karena Bung Karno memang mencari anggota yang sedaerah dan menonjol di perang-perang gerilya," ujar Roland dalam keterangannya, Sabtu (29/5/2021).

Roland menceritakan mendiang Koesno memang tak banyak dikenal oleh publik tentang keterlibatannya. Namun ada banyak bukti bahwa opanya merupakan salah satu pengawal Bung Karno pada masa 1950-1960an.

"Penembakan Istiqlal, terus beberapa peristiwa penting lainnya. Opa saya ada di situ," katanya.

Serma R Koesno meninggal pada 1998 dan meninggalkan seorang istri bernama Elisabeth Koesno, yang dinikahi pada 1950. Elizabeth Koesno keturunan Belanda-Indonesia dan ibunya berasal dari Purworejo.

Kesulitan demi kesulitan dialami keluarga Elizabeth Koesno. Lantaran sakit dari jatuh yang dia alami akhir 2019, dia mesti menjalani perawatan yang tidak murah. Terakhir adalah ketidakmampuannya membayar kontrakan.

Namun kekhawatirannya itu sirna. Sebab, kemarin mendapat kabar bahwa kontrakannya telah dibayar. Pembayaran dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bantuan ini pun di luar dugaan Elisabeth sekeluarga.

"Karena Pak Ganjar tidak pernah menjanjikan apa-apa, dua minggu lalu saya kontak beliau lewat Instagram. Dibantu untuk bayar PDAM. Ini hadiah Hari Lansia. Dibayarkan kontrakan kami oleh Pak Ganjar," kata Roland.

Roland mengatakan tagihan PDAM dibayar Ganjar sekitar dua minggu lalu sejumlah Rp 1,3 juta. Sedangkan untuk kontrakan dibayar full satu tahun sebesar Rp 25 juta.

"Kami betul-betul terima kasih, karena jujur saja kemarin sudah packing baju-baju kita bingung mau ke mana. Sempat bilang ke Pak Ganjar kalau ada tempat tinggal di Jawa kita juga mau, kecil-kecilan saja yang penting Oma nyaman. Ternyata malah dibayari kontrakannya," ucap Roland.

Sebagai informasi, Roland terpaksa membagikan kisah neneknya karena kesulitan yang dialami. Dia membagikan kisahnya melalui media sosial. Sejumlah tokoh negara dia mention, termasuk Ganjar Pranowo.

"Dulu Opa punya rumah di Pondok Gede, 2.000 meter. Tapi ada sengketa dan kita akhirnya mengalah karena juga butuh uangnya untuk Oma. Nah dari situ kita mulai pindah-pindah kontrakan sampai yang saat ini kita tinggali," katanya.

Namun, masa pandemi yang tak kunjung usai dan bantuan yang datang tak pernah jelas juntrungannya membuat kondisi ekonomi Elisabeth Koesno sekeluarga makin tak keruan.

"Pernah jual minyak, gula, beras itu hanya untuk beli (token) listrik. Banyak yang datang mengaku kasih bantuan, tapi saya cuma diminta tanda tangan cek kosong setelah itu tidak ada bantuan yang datang. Ya alhamdulillah kadang orang-orang itu meninggalkan mi atau sembako atau uang," kata Roland.

Roland mengaku tak bisa berhenti bersyukur, sebab Ganjar menolongnya. Ganjar, kata Roland, tak pernah bicara apa pun soal rumah kontrakan.

"Ya ndak menyangka, tahu-tahu sudah dibantu. Terima kasih banyak, Pak Ganjar," katanya.

(ncm/ega)