Apa Artinya Tajdid? Berikut Penjelasannya

Kristina - detikNews
Sabtu, 29 Mei 2021 05:57 WIB
Sejumlah warga muslim di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, melaksanakan ibadah salat Idul Fitri hari ini Rabu (12/5/2021). Salat Id dilaksanakan di 3 lokasi di lingkungan pondok pesantren (ponpes) Mahfilud Duror.
Foto: Yakub Mulyono
Jakarta -

Islam mengenal adanya istilah at-tajdid dalam kehidupan beragama. Istilah ini kemudian menjadi jargon dalam gerakan pembaruan Islam. Lantas, apa artinya tajdid?

Dikutip dari buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan oleh Dr. Haedar Nashir, tajdid bermakna pembaruan. Kata ini setara dengan jadid yang artinya sesuatu yang baru. Istilah tajdid dikenal luas di kalangan Muhammadiyah sebagai suatu gerakan pembaruan.

Tajdid berasal dari kata jadda - yajiddu - jiddan/ jiddatan artinya sesuatu yang ternama, yang besar, nasib baik, dan baru. Tajdid dimaknai dalam tiga hal. Pertama, sebagai i'adat al-syaiy ka'l-mubtada atau mengembalikan sesuatu pada tempat semula.

Kedua, al-iyha atau menghidupkan sesuatu yang telah mati. Ketiga, al-ishlah atau menjadikan baik, mengembangkan.

Ulama tafsir M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al-Quran Jilid 2 mengartikan tajdid sebagai keniscayaan bagi ajaran Islam yang dinyatakan sebagai ajaran yang selalu sejalan dengan waktu, situasi, dan tempat. Tajdid mengandung makna pemantapan, pencerahan, dan pembaruan. Di mana ketiganya mencakup aspek sangat luas.

Tajdid dalam arti pemantapan dijelaskan melalui sabda Nabi Muhammad SAW dalam perintahnya untuk memperbarui iman (tajdid iman). "Perbaruilah iman kamu! Ditanyakan: "Wahai Rasul Allah, Bagaimana memperbarui iman kami?" Beliau menjawab: "Perbanyaklah (mengucapkan/menanamkan dalam benak) ucapan Laa Ilaaha Illaa Allah."

Tajdid dalam arti pencerahan adalah penjelasan ulang dalam kemasan yang lebih baik mengenai ajaran agama yang pernah dijelaskan para pendahulu. Sementara itu, tajdid dalam arti pembaruan adalah mempersembahkan sesuatu yang benar-benar baru yang belum pernah dijelaskan atau diungkap oleh siapa pun.

Lebih lanjut Quraish Shihab menerangkan, perlunya tajdid membuat Al Quran menekankan berulang kali tentang perlunya berpikir, merenung, mengingat, mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu, dan sebagainya. Aktivitas berpikir tak lepas dari kondisi dan situasi yang dialami.

Pemikiran Tajdid

Pemikiran tajdid berkembang di kalangan Muhammadiyah. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah membawa gerakan dakwah dan tajdid dalam perkembangannya. Sejatinya, dakwah dan tajdid merupakan sistem gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya ormas ini.

"Muhammadiyah sendiri memang sejatinya sejak awal berdirinya merupakan gerakan Islam yang berwatak dan bergerak dalam lapangan dakwah dan tajdid, sehingga tajdid maupun dakwah atau dakwah maupun tajdid merupakan bagian dari manhaj atau sistem gerakan Muhammadiyah," tulis Haedar Nashir seperti dikutip pada Jumat, (28/5/2021).

Pemikiran tajdid selaras dengan salah satu hadits Nabi Muhammad SAW dalam sebuah riwayat Abu Dawud. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Artinya: "Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun, Allâh Subhanahu wa Ta'ala akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbaharui agama mereka." (HR. Abu Dawud no. 3740 dan dinilai shahih oleh Syeikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 599).

(nwy/nwy)