Sederet Isu soal Keberadaan Harun Masiku, di Mana Dia Sekarang?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 28 Mei 2021 18:27 WIB
DPO Harun Masiku.
DPO Harun Masiku (Situs resmi KPK)
Jakarta -

Keberadaan tersangka kasus suap pergantian antarwaktu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Harun Masiku, masih dipertanyakan hingga kini. Beredar sejumlah kabar yang menyebut kabar hingga di mana dirinya bersembunyi.

Diketahui Harun Masiku menghilang usai ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia kini jadi buron dan masuk daftar pencarian orang (DPO) sejak 7 Januari 2020.

Berikut informasi seputar keberadaan Harun Masiku yang sempat diklaim sejumlah pihak:

Harun Masiku Sempat Meninggal Dunia

Sempat beredar kabar Harun Masiku sudah meninggal dunia. Hal itu disampaikan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman.

Dalam sesi wawancara di akun YouTube Karni Ilyas, Karni Ilyas Club, dengan judul 'BOYAMIN SAIMAN "DETEKTIF PARTIKELIR" HARUN MASIKU SUDAH MENINGGAL !?', Boyamin meyakini kabar tersebut. Ia mengklaim mendapat informasi akurat dari jaringannya yang seorang mantan intelijen.

"Jaringan saya menyebutkan Harun Masiku sudah tidak ada atau meninggal tanda kutipnya, tidak tahu seperti apa," ucap Boyamin.

Boyamin menyebut info soal kondisi Harun Masiku ini didapatkannya dari informan terbaik.

"Jaringan terbaik saya loh. Jujur, ada beberapa pensiunan di lembaga intelijen. Beberapa mengatakan ke saya, itu (Harun) sudah meninggal," katanya.

Dia mengatakan tidak ada pembantahan atau informasi lain, sehingga dia meyakini hal tersebut.

Kabar Harun Masiku di Luar Negeri

Setelah klaim soal kematian Harun Masiku, Boyamin menyebut buron KPK itu berada di luar negeri. Pelacakan juga sempat dilakukan oleh Boyamin.

Meski begitu, Boyamin tak mau menyebut negara mana yang dimaksudnya. Ia meminta KPK menerbitkan red notice.

"Sampai saat ini yang saya sayangkan itu adalah salah satunya tidak diterbitkan red notice," kata Boyamin.

"Bisa jadi Harun Masiku di luar negeri menyelundup lewat perbatasan dan lain sebagainya. Artinya, KPK perlu melacak di luar negeri dengan cara menerbitkan red notice. Meskipun kembali ke persoalan semula kalau ditanya keyakinan ya Harun Masiku sudah meninggal," lanjutnya.

KPK Bentuk Satgas Pencari Buronan

KPK akhirnya membentuk satgas khusus untuk mencari buronan setelah tak kunjung mendeteksi keberadaan Harun Masiku.

"Kita di pimpinan (KPK) juga telah menginisiasi dan meminta kepada Pak Deputi dan juga dalam rangka itu mencoba untuk membuat sebuah satu satgas yang memang fokus melakukan pencarian kepada orang-orang DPO," kata Lili di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu (20/1/2021).

"Agar cepat efektif dengan membentuk sebuah tim satgas sendiri yang khusus mencari orang-orang yang memang masuk DPO," tambah Lili.

Harun Masiku Diceraikan Istri

Istri Harun Masiku, Hildawati, melayangkan gugatan cerai untuk suaminya pada Maret lalu. Hal ini dilakukan karena tidak mendapat nafkah lahir dan batin sejak menghilang.

Hilda resmi bercerai dalam putusan verstek Nomor : 238/Pdt.G/2020/PN Mks tertanggal 16 Maret 2021 di Pengadilan Negeri Makassar. Diketahui gugatan telah didaftarkan sejak 27 Juli 2020 dan selama sidang tidak pernah dihadiri buronan KPK itu.

"Antara Harun Masiku dan klien saya sudah tidak ada hubungan lagi, oleh karenanya mengenai Informasi, keberadaan atau apapun jenisnya tentang Harun Masiku, sudah tidak menjadi urusan klien saya lagi" kata kuasa hukum Hildawati, Hari Sakti Zabri saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (17/3/2021).

Hildawati pun tidak mengetahui di mana keberadaan Harun Masiku. Hildawati bahkan tidak tahu apakah Harun Masiku masih hidup atau telah meninggal.

"Saya pernah tanya soal kabar meninggalnya Harun Masiku, dia jawab hanya baca lewat media. Dia tidak tahu Harun Masiku masih hidup atau sudah meninggal," kata Hari.

Seperti diketahui, Harun Masiku masih buron usai ditetapkan sebagai tersangka kasus suap PAW DPR. Padahal tiga tersangka lain, yakni Saeful Bahri, eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan, dan Agustiani Tio Fridelina, sudah divonis bersalah.

(izt/imk)