AS Ingin Gulingkan Rezim Iran
Selasa, 14 Mar 2006 16:50 WIB
Jakarta - Pemerintah AS diberitakan tengah merencanakan kampanye berkelanjutan terhadap pemerintahan Iran sehubungan dengan program nuklirnya. Ini termasuk upaya penggantian rezim. Ambisi nuklir Iran telah mendepak masalah Irak dari agenda keamanan nasional AS.Masalah nuklir Iran telah sampai di Dewan Keamanan PBB. Untuk itu Presiden AS George W Bush dan timnya mulai melakukan pertemuan tertutup mengenai isu Iran. Para ahli dipanggil untuk dimintai pendapat, mendirikan sebuah kantor Iran di Washington serta membuka pos-pos di luar negeri yang didedikasikan untuk upaya melawan Iran.Demikian seperti diberitakan harian terkemuka The Washington Post dan dilansir kantor berita AFP, Selasa (14/3/2006).Menurut media tersebut, meski pejabat-pejabat Washington tidak menggunakan istilah "perubahan rezim" secara terbuka, namun tujuan itulah yang ingin dicapai terhadap Iran.Ini terlihat dalam pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Condoleezza Rice di depan Senat pekan lalu. "Kita mungkin tidak akan menghadapi tantangan yang lebih besar dari satu negara selain Iran," ujar Rice."Kita tidak punya masalah dengan rakyat Iran. Kita ingin rakyat Iran menjadi bebas. Masalah kita adalah dengan rezim Iran," imbuh petinggi negeri adikuasa itu.Masih menurut koran itu, masalah Iran telah menjadi fokus mendesak dalam pemerintahan AS. Sampai-sampai Presiden Bush menghabiskan lebih banyak waktunya untuk membahas isu ini. Sementara para penasihatnya telah mengundang 30 hingga 40 pakar untuk melakukan konsultasi dalam beberapa bulan terakhir ini.Klonflik nuklir Iran kian memanas setelah negeri itu menolak proposal damai yang ditawarkan Rusia guna mengakhiri krisis nuklirnya dengan PBB. Penolakan ini terjadi di tengah upaya pemerintah Inggris untuk membujuk Dewan Keamanan PBB agar menetapkan deadline selama 14 hari bagi Iran untuk mematuhi desakan internasional agar menghentikan ambisi nuklirnya.Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, yakni sebagai pembangkit energi. Sementara AS dan Eropa menuding bahwa Iran diam-diam berusaha mengembangkan senjata atom lewat aktivitas nuklirnya.
(ita/)











































