Penunjukan Exxon Penuh Rekayasa
Selasa, 14 Mar 2006 16:11 WIB
Jakarta - Penunjukan ExxonMobil sebagai operator di Blok Cepu dinilai penuh rekayasa dan manipulasi. DPR pun diminta tidak hanya "NATO", no action talk only.Penunjukan ExxonMobil itu juga dinilai menunjukkan adanya tekanan politik dari pemerintah AS kepada Indonesia. "Meski pemerintah membantah, tapi jelas penunjukan terjadi sebelum Menlu AS (Condoleezza Rice datang. Kita masih kalah berani dengan negara kecil seperti Bolivia yang berani menentang AS," ujar anggota Komisi VII dari FPKS Ami Thaher dalam jumpa pers di Gedung MPR/DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (14/3/2006).Manipulasi-manipulasi lainnya juga terlihat dari munculnya PP No 34 Tahun 2005 sebagai ganti PP sebelumnya. PP ini dianggap untuk melegalkan kesepakatan technical assistance contract (CAC) Blok Cepu menjadi Kontrak Kerja Sama (KKS). "PP tersebut muncul tepat satu pekan sebelum penandatanganan KKS," kata Ami.Sementara pengamat ekonomi dari INDEF Fadhil Hasan yang hadir dalam jumpa pers itu, mendesak DPR menggelar hak angket guna menyelidiki penunjukkan yang penuh manipulasi itu. "DPR jangan hanya NATO," cetus dia.Fadhil juga mendesak Dirut Pertamina yang baru, Ari Sumarsono, segera meletakkan jabatannya. Ari dianggap tidak lebih dari kepanjangan tangan kepentingan asing. "Kalau untuk menandatangani persoalan pertama saja sudah memble, buat apa mereka duduk di sana," kata Fadhil.Wakil Ketua DPD Marwan Batubara yang selama ini dikenal lantang menolak kehadiran Exxon, menilai tidak ditunjuknya Pertamina sebagai operator justru membuat kredibilitas Pertamina di kancah internasional semakin dipertanyakan. "Di negeri sendiri saja sudah tidak mampu, bagaimana di dunia internasional?" tanyanya.Sementara anggota Komisi I dari FKP Effendi Choirie mengajak masyarakat melakukan perlawanan terhadap kehadiran Exxon di Blok Cepu."Dengan kesadaran masyarakat maka ini harus dilawan. Masyarakat terutama yang berada di daerah Cepu, Bojonegoro dan sekitarnya harus turun melakukan penolakan. Ini perjuangan berat," tandasnya.
(umi/)











































