7 Sunnah Khutbah Jumat yang Perlu Dipahami Khatib

Kristina - detikNews
Jumat, 28 Mei 2021 12:04 WIB
Sejumlah warga menunaikan shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (8/1/2021). Usai diresmikan Kamis (7/1) oleh Presiden Joko Widodo.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Khutbah merupakan salah satu syarat sah sholat Jumat. Sebagai khatib, setidaknya ada beberapa hal yang perlu dipahami dalam melaksanakan khutbah Jumat.

Dikutip dari buku 'Petunjuk Nabi SAW dalam Khutbah Jumat' oleh Anis ibn Ahmad Tahir, berikut sunnah khutbah Jumat yang perlu dipahami oleh khatib:

1. Berdiri dalam Berkhutbah

Dalam buku ini dijelaskan bahwa Rasulullah SAW berdiri dalam berkhutbah. Hal ini disebutkan dalam firman-Nya pada QS. Al Jumu'ah ayat 11 sebagai berikut:

وَإِذَا رَأَوْا۟ تِجَٰرَةً أَوْ لَهْوًا ٱنفَضُّوٓا۟ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِ ۚ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

Artinya: "Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki."

Beberapa orang Tabi'in seperti Adul 'Aliyah, al-Hasan, Zaid bin Aslam dan Qatadah menceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang berdiri di atas mimbar khutbah. Sementara itu, Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut sebagai dalil yang menunjukkan bahwa imam berkhutbah pada hari Jumat dalam keadaan berdiri.

2. Berkhutbah di Atas Mimbar

Mimbar berarti sebuah tempat yang tinggi. Mimbar Rasulullah SAW terdiri dari 3 tingkat tangga. Beliau berkhutbah pada tingkat tangga yang kedua dan duduk pada tingkat tangga yang ketiga.

Hal tersebut diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan Abu Ya'la dalam penggalan hadits dari Anas bin Malik yang terdapat dalam kalimat:

"Maka, orang tersebut membuat untuk beliau mimbar dua tingkat dan beliau duduk pada tingkat ketiga..." (HR. Ad-Darimi dan Abu Ya'la).

3. Menjiwai Khutbahnya Ketika Berkhutbah

Dalam berkhutbah, Nabi Muhammad SAW tampak menjiwai setiap khutbah Jumat yang disampaikan. Sebagaimana dijelaskan dalam buku tersebut, apabila berkhutbah mata Rasulullah tampak memerah, tekanan suaranya tinggi, dan kemarahannya terlihat.

"Beliau bagaikan pemberi semangat pasukan tentara yang sedang bertempur," tulisnya seperti dikutip pada Jumat, (28/5/2021).

Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits oleh Imam Muslim, dari Jabir bin 'Abdillah,

"Nabi Muhammad SAW apabila berkhutbah matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya sangat. Sehingga bagaikan komandan pasukan perang yang sedang berkata: 'Musuh menyerang kalian pada pagi hari dan sore hari...!!!" (HR. Muslim dalam kitab Shahih Muslim, kitab al-Jumu'ah bab Takhfiifush Shalaah wal Khuthbah No. 867).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan sunnah bagi khatib untuk menjiwai setiap perkataan dalam khutbahnya.

4. Menghadap Jamaah

Sunnah khutbah selanjutnya adalah menghadap jamaah. Sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW saat menyampaikan khutbahnya. Artinya, antara khatib dan jamaah berada pada posisi saling bertatap muka.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, dari Adi bin Tsabit dari ayahnya, dia berkata:

"Nabi Muhammad SAW sewaktu berdiri di atas mimbar, para sahabatnya menghadapkan wajahnya kepada beliau." (HR. Ibnu Majah).

Klik halaman berikutnya