Mayoritas Publik Minta Penguatan Alutsista, Kenapa?

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 14:52 WIB
alutsista
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, mayoritas responden (92,8%) menyatakan untuk menjaga pertahanan dan kedaulatan wilayah Indonesia, pemerintah perlu secara berkala menambah alutsista dengan kualitas mutakhir atau lebih modern.

Menurut survei tersebut, hampir separuh responden, dari tiga matra TNI, Angkatan Laut (AL) harus diprioritaskan dalam pemutakhiran alutsista. Sementara harapan publik akan penguatan alutsista pada matra darat dan udara relatif berimbang, yakni masing-masing berkisar 26-27% responden.

Ada kemungkinan harapan publik akan penguatan alutsista di matra laut karena simpati dengan tragedi KRI Nanggala-402. Dengan pemutakhiran alutsista tersebut, diharapkan mampu menjamin keselamatan kerja yang maksimal bagi seluruh anggota TNI.

Survei juga menunjukkan publik masih khawatir terhadap kondisi alutsista yang dimiliki Indonesia saat ini. Separuh responden menganggap alutsista yang dimiliki Indonesia belum semuanya andal. Sehingga muncul kekhawatiran akan kekalahan dalam pertempuran saat muncul ancaman terhadap kedaulatan negara.

Meski demikian, ada sebagian responden lain justru menilai mayoritas alutsista Indonesia sudah berteknologi modern dan baru. Beragamnya anggapan ini menunjukkan bahwa informasi mengenai kondisi alutsista Indonesia sangat terbatas.

Pada survei kali ini, publik juga berharap pemerintah Indonesia mampu memproduksi alutsista secara mandiri di masa depan. Hal ini terlihat dari separuh lebih responden yang menginginkan Indonesia membeli produk sekaligus menjalin kerja sama produksi alutsista dengan sejumlah negara maju.

Publik menilai Indonesia mampu mandiri dalam membangun industri persenjataan. Sekitar 87% responden meyakini Indonesia mampu memproduksi alutsista di dalam negeri pada suatu saat nanti. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki sejumlah industri strategis yang mampu melakukan rekayasa teknologi terkait alutsista, seperti PT PAL Indonesia, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Pindad.

Namun, untuk menuju hal itu bukan hal yang bisa dibilang mudah. Pertama, Indonesia perlu anggaran besar untuk membeli alutsista yang direncanakan akan diproduksi secara mandiri. Kedua, harus ada diplomasi politik internasional yang kuat dengan negara produsen.

Kedua hal itu sangat penting dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan negara produsen dalam menjalin transfer teknologi. Namun, sekali lagi, bukan hal mudah menyiapkan anggaran besar serta mendapatkan kesepakatan transfer mengingat posisi Indonesia merupakan negara non blok.

Akan tetapi masih ada kemungkinan untuk mendapatkan kesepakatan jika pemerintah serius mengupayakannya. Setidaknya, keluwesan Indonesia dalam membangun hubungan luar negeri dapat menjadi peluang untuk mendapatkan kerja sama dengan negara mana pun tanpa memihak salah satu kepentingan politik global.

Dengan demikian, masih ada harapan bagi Indonesia untuk memproduksi alutsista secara mandiri sebagai upaya meningkatkan kualitas pertahanan demi menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tonton juga Video: Panglima TNI Serukan Evaluasi Alutsista di DPR RI

[Gambas:Video 20detik]




(mul/ega)