Sela, Gajah Balita Kurang Gizi
Senin, 13 Mar 2006 16:53 WIB
Pekanbaru - Tidak cuma balita manusia saja yang kekurangan gizi di negara ini. Gajah balita di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) juga bernasib serupa. Ada 5 ekor anak gajah badannya kurus karena kekurangan pasokan gizi. Cobalah lowongkan waktu sedikit untuk melihat PLG di Taman Hutan Rakyat (Tahura) di Kabupaten Siak, Riau. Jaraknya lumayan dekat, hanya 60 km arah utara Pekanbaru yang bisa dicapai dalam waktu sejam. Di LPG, ada 45 ekor gajah binaan. Tiap gajah diberi nama. Dari 45 gajah, 5 di antaranya masih balita. Nah, Sela adalah gajah paling bontot. Umurnya belum genap setahun. Seperti anak gajah lainnya, Sela adalah balita yatim piatu.Lima anak gajah ini perkembangan badannya tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Badannya kurus, terlihat tulang-tulang melintang di bagian perutnya. Gajah ini merupakan temuan jajaran Dinas Kehutanan di Riau dalam pengusiran gajah di beberapa lokasi. Anak gajah ini tertinggal oleh induknya. Gajah ini pun diasuh PLG. Apesnya, PLG pun kantongnya tipis. Jadi bisa dibayangkan bagaimana susahnya PLG memberi ransum pada Sela dkk. Akhirnya, anak gajah ini saban hari hanya diberi susu SGM 2 dengan takaran 600 mg sehari. Cara memasak susu itu juga ala kadarnya. Pertama, sekitar 5 liter air dimasak hingga mendidih. Bubuk susu SGM 2 lalu diaduk dalam air panas. Selanjutnya dicampur dengan air tanpa dimasak terlebih dahulu. Air susu inilah yang diberikan kepada lima ekor anak gajah tadi. "Yang namanya balita pisah dari induknya, diberi susu tambahan apa pun tidak akan sama hasilnya dengan Air Susu Induk (ASI). Gajah-gajah ini jelas terlihat kekurangan gizi. Badannya kurus, anak gajah ini seakan butuh perhatian dari induknya," kata Harijal Jalil, Direktur LSM Lingkungan Tropika, kepada detikcom, Senin (13/3/2006) di PLG Tahura. Jadwal minum susu ini sehari 2 kali yakni pukul 08.00 WIB dan pukul 16.00 WIB. Selain pasokan susu, gajah balita ini juga diberi makanan tambahan seperti pohon pisang. Tapi semua itu tidak mencukupi untuk memenuhi semua gizi yang dibutuhkan. Karena itulah gajah balita ini badannya terlihat kurus. Tingkah anak-anak gajah ini tak ada bedanya dengan anak manusia yang masih di bawah lima tahun. Mereka ini tidak dicampurkan dengan gajah dewasa. Mereka bebas berkeliaran di camp para pelatih gajah. Anak gajah ini berbaur dengan pawang-pawang gajah. Malam hari pun, mereka duduk bersama dengan pawang gajah yang lagi asyik nonton TV di tengah areal hutan tersebut. "Gajah anakan ini sama saja kayak manusia. Mereka butuh perhatian dari para pawangnya. Ya namanya juga gajah anakan yang ditinggalkan induknya. Mereka ini tetap saja merasakan kerindungan dari sang induk," kata M Saat, staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau yang bertugas sebagai pelatih di PLG Tahura.
(nrl/)











































