Pertamina Lestarikan Kain Songket Lewat Program Kemitraan

Angga Laraspati - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 10:26 WIB
Indonesia memang terkenal dengan berbagai kerajinan tangannya. Salah satu yang khas adalah kain songket melayu di Dumai.
Ilustrasi. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

PT. Pertamina (Persero) turut membantu melestarikan kekayaan busana dan kain adat khas Indonesia. Salah satunya adalah kain songket khas Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Dalam hal ini, Pertamina mengambil peran dengan membina para perajin melalui Program Kemitraan. Para pelaku UMKM dibina dan didampingi hingga bisa naik kelas dan go global.

Salah satu perajin Hamamul Fauzi Basri, merupakan generasi ke-3 dari bisnis songket yang berpusat di Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

"Berawal dari Kakek Nenek saya, lalu dilanjutkan Ibu saya Bu Aina, dan sekarang saya ikut meneruskan," jelas Fauzi dalam keterangan tertulis, Selasa (18/5/2021).

Fauzi menceritakan lika-liku keluarganya dalam menjalankan bisnis turun temurun tersebut. Terutama saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998, ibunya harus merumahkan ratusan pekerja. Namun berkat kreativitas orang tuanya, bisnisnya bisa kembali menggeliat dengan sistem kemitraan.

"Ratusan pekerja itu kini jadi mitra. Meski bisa menciptakan pesaing baru, tapi konsep ini lebih minim risiko dan ikut membantu mereka," imbuhnya.

Dalam praktiknya, keluarga Fauzi menyiapkan motif dan standar kualitas yang harus dipenuhi. Kemudian barulah dikerjakan oleh mitra anak tenun, selanjutnya hasil kain-kain tersebut akan kembali dibeli oleh Fauzi.

Upaya ini menjadi salah satu implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, yakni menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurut Fauzi, songket Silungkang mempunyai beberapa keunggulan dibanding jenis songket lain. Penggunaan benang kain yang lebih banyak ketimbang benang emas, membuat songket Silungkang terasa lebih ringan.

Selain untuk kain sarung dan selendang, songket Silungkang bisa diaplikasikan untuk bahan pakaian, taplak meja, gorden, gambar dinding, sepatu, dan sandal.

Soal harga, songket Silungkang dijual mulai Rp 350 ribu, hingga jutaan rupiah. Selain dipasarkan langsung dari pusat produksi di Silungkang, Fauzi kini telah memiliki gerai songket yang terletak di Pusat Pertokoan Pasar Atas Bukittinggi.

Lebih lanjut, sejak menjadi binaan Pertamina pada 2018 lalu, Fauzi mengakui bisnisnya mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Mulai dari penambahan karyawan sebesar 50%, semula 5 orang kini jadi 10 orang.

Dari sisi omzet meningkat 20% menjadi Rp 30 juta setiap bulannya. Hingga perluasan area pemasaran ke seluruh Indonesia berkat pemasaran secara digital melalui media sosial @songket_aina.

Pjs. Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman menambahkan, Pertamina akan terus mendukung usaha seperti yang dijalani Fauzi dan keluarganya.

"Meski songket adalah jenis kain tenunan tradisional rumpun Melayu di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Namun beberapa di antara tumbuh dan berkembang menjadi kain khas daerah di Indonesia seperti songket Silungkang ini," kata Fauziyah

Menurut Fajriyah, melalui Program Kemitraan, Pertamina ingin menghadirkan energi yang menggerakkan roda ekonomi. Energi yang menjadi bahan bakar, serta energi yang menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan.

(prf/ega)