Nusron Wahid Sarankan Ngabalin-Busyro Bermaafan Polemik Otak Sungsang

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 16 Mei 2021 12:17 WIB
Ali Mochtar Ngabalin dan Busyro Muqoddas (Repro detikcom)
Ali Mochtar Ngabalin dan Busyro Muqoddas (Repro detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR F-Golkar Nusron Wahid menyarankan agar Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin dan Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas saling bermaafan. Hal itu disampaikan Nusron ditengah polemik kritik Ngabalin kepada Busyro yang menyebut berotak sungsang terkait pernyataan Busyro yang menilai KPK tamat di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Pak Ali Ngabalin dan Pak Busyro; mumpung masih suasana Syawwal, yuk kita salam2an dan cool dulu. Biar temen2 yg ga bisa mudik anteng ber-"silaturrahmi" meski hanya via daring," kata Nusron dalam akun Twitter resminya @NusronWahid1, yang dikutip detikcom, Minggu (16/5/2021).

Lebih lanjut, Nusron mengungkap perbedaan pendapat tentang suatu hal adalah biasa. Namun dalam suasana Lebaran, ia menyarankan hendaknya saling bermaafan dan bersilaturahmi.

"Sebagai sesama muslim beda pendapat, pilihan dan standing itu biasa. Tp kalau syawwal kita harus punya sikap sama; meminta maaf dan ampunan. Serta bersilaturrahmi," ujarnya.

"Yg muda menghormati yg lebih tua, yg tua mengkasihi yg muda. Yg sama2 saling menghargai satu sama lain. Insya'allah kita semua dapat barokah Ramadhan dan Syawwal," imbuhnya.

Sebelumnya, perkara sebutan 'otak sungsang' yang dilontarkan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin kepada Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas berbuntut panjang. Ngabalin yang panen kritik karena ucapannya membela diri.

Keributan gegara 'otak sungsang' bermula dari pernyataan Busyro yang menilai KPK tamat di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ngabalin tak sependapat dengan Ketua PP Muhammadiyah yang pernah menjadi Ketua KPK itu.

"Otak-otak sungsang seperti Busyro Muqoddas ini merugikan persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan umat yang kuat dan berwibawa. Kenapa harus tercemar oleh manusia prejudice seperti ini," tulis Ngabalin lewat akun Instagram bercentang birunya, Kamis (13/5/2021).

Pernyataan Ngabalin itu menuai kritik dari Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas dan Ketua Umum Pemuda PP Muhammadiyah Sunanto. Ngabalin dinilai tak beradab dan malah merusak citra Jokowi.

"Menurut saya, Ngabalin lebih banyak merusak citra Jokowi daripada memperbaiki citra Jokowi. Lebih banyak masfadah (kerusakan). Jokowi menjadi terkesan antikritik, padahal Jokowi menyatakan dirinya terbuka terhadap kritik," kata Anwar Abbas.

Terkait polemik ini, Partai Gerindra menyarankan agar sebaiknya Ngabalin dan Busyro meredakan ketegangan.

"Baiknya Pak Ngabalin dan Pak Busyro redakan ketegangan agar dialog yang solutif soal nasib 75 karyawan KPK bisa membawa hasil yang maksimal. Istilah anak Betawi, hati boleh panas tetapi kepala harus tetap adem," kata juru bicara Partai Gerindra Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu (15/5).

Habiburokhman menilai Ngabalin terlalu keras dalam melempar kritik, bahkan dengan sebutan yang kurang etis. Sedangkan Busyro, menurut dia, perlu meluruskan pernyataannya yang menyebut KPK tamat di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Pernyataan Pak Ali Mochtar Ngabalin terlalu keras, bahkan kasar, dengan memakai istilah yang kurang etis. Namun sebaliknya pernyataan Pak Busyro juga perlu diluruskan, KPK sama sekali belum tamat, dan dipastikan Pak Jokowi tidak ingin KPK tamat di era kepemimpinannya," ujar anggota DPR Komisi III ini.

Habiburokhman menyebut nasib 75 pegawai KPK yang dinonaktifkan belum final. Anggota Komisi III DPR RI itu akan mengusulkan pertemuan antara DPR dan KPK untuk mencari solusi terkait polemik yang terjadi di lembaga antirasuah itu.

Perkara sebutan 'otak sungsang' yang menuai kritik membuat Ngabalin kembali buka suara. Dia membela diri dan meminta Busyro menarik ucapan yang menilai KPK tamat di tangan Jokowi.

"Ya sebetulnya Pak Busyro harus tarik kata-katanya itu sebagai tokoh, sebagai... beliau harus menarik kalimatnya. Karena itu tidak bagus bagi presiden, bagi pemerintah, itu tidak bagus. Pak Busyro harus menarik kata-katanya," kata Ngabalin kepada wartawan, Sabtu (15/5).

Ngabalin mengatakan sebutan 'otak sungsang' terhadap Busyro karena dia menyoroti posisi Busyro Muqoddas sebagai pimpinan Muhammadiyah serta mantan pimpinan KPK. Menurut Ngabalin, pernyataan Busyro tersebut cenderung prejudice.

"Karena beliau kan mantan Ketua KPK, tapi kalau beliau mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang prejudice, bias, itu kan pernyataan yang provokator sebetulnya, prejudice kan. Jadi kalau beliau tidak menjabat sebagai Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muhammadiyah saya tidak ambil pusing, tapi karena beliau adalah Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muhammadiyah maka saya harus ambil pusing," ujarnya.

Simak juga 'Saat Muhammadiyah Minta Pemerintah Usut Kasus Korupsi':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/gbr)