Perjalanan Kasus Antigen Bekas Berujung Pemecatan Direksi KF Diagnostika

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 16 Mei 2021 11:21 WIB
Penampakan alat antigen bekas sebelum didaur ulang
Penampakan alat antigen bekas sebelum didaur ulang. (Dok. Polda Sumut)
Jakarta -

Polisi mengungkap kasus penggunaan alat tes antigen bekas untuk tes Corona di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Sejumlah orang telah ditetapkan sebagai tersangka hingga dicopot. Kabar terbaru, direksi Kimia Farma Diagnostika dipecat.

Kementerian BUMN memecat seluruh direksi Kimia Farma Diagnostika (KFD). Selain itu, pihaknya menyerahkan persoalan hukum ke aparat penegak hukum.

"Setelah melakukan pengkajian secara komprehensif, langkah (pemberhentian) ini mesti diambil. Selanjutnya, hal yang menyangkut hukum merupakan ranah dari aparat yang berwenang," kata Menteri BUMN Erick Thohir dalam keterangannya, Minggu (16/5/2021).

Erick Thohir telah menyatakan turun langsung menangani kasus. Surat pemecatan kepada seluruh direksi KF Diagnostika pun turun.

Erick menegaskan apa yang terjadi di Kualanamu adalah persoalan yang mesti direspons secara profesional dan serius. Setelah melakukan penilaian secara terukur dan berlandaskan semangat good corporate governance, langkah tegas mesti diambil.

Terkait kasus alat tes antigen bekas di Kualanamu, Erick Thohir menegaskan semua BUMN terikat pada kesepakatan bersama untuk bertindak profesional sesuai dengan core value yang dicanangkan, yaitu amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif. Apa yang terjadi dalam kasus tes antigen bekas di Kualanamu dinilai bertentangan dengan core value tersebut.

Kasus ini bermula saat polisi melakukan penggerebekan di lokasi layanan tes antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara (Sumut). Kasus ini terungkap saat polisi melakukan penyamaran.

Berdasarkan info yang dihimpun detikcom, penggerebekan dilakukan di Laboratorium Rapid Antigen Kimia Farma, Lantai M, Bandara Kualanamu, Selasa (27/8/2021) sore. Penggerebekan dilakukan anggota Dirkrimsus Polda Sumut.

Penggerebekan dilakukan setelah polisi mendapat keluhan dari para calon penumpang pesawat yang mendapati hasil rapid antigen positif COVID-19 dalam kurun lebih-kurang 1 minggu. Penggerebekan dilakukan dengan cara penyamaran. Saat penyamaran, salah satu polisi mendaftar sebagai calon penumpang yang hendak mengikuti rapid test antigen. Setelah antre, dia masuk ke ruang pemeriksaan dan alat tes rapid antigen dimasukkan ke lubang hidungnya.

Setelah menunggu 10 menit, anggota Polda Sumut itu mendapati hasil tesnya positif. Sempat ada perdebatan soal hasil pemeriksaan itu. Setelah itu, petugas laboratorium dikumpulkan dan polisi melakukan pemeriksaan menyeluruh di lokasi. Hasilnya, didapati alat rapid test antigen yang telah dipakai digunakan lagi alias didaur ulang.

Alat yang dimasukkan ke hidung itu diduga dibersihkan lagi setelah dipakai untuk digunakan ke pasien lain. Polisi pun menangkap sejumlah petugas laboratorium serta menyita beberapa barang bukti ke Polda Sumut.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan lima pegawai Kimia Farma sebagai tersangka kasus dugaan penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu. Adapun para tersangka adalah PM (45), eks Business Manager Laboratorium Kimia Farma Jl Kartini Medan; SR (19), mantan kurir laboratorium Kimia Farma; DJ (20), mantan CS di laboratorium Klinik Kimia Farma; M (30), mantan pekerja bagian admin lab Kimia Farma Jl Kartini Medan; R (21), dan mantan pekerja bagian admin hasil swab.

PT Kimia Farma Tbk memecat oknum petugas tersebut. "Kimia Farma memecat para oknum petugas setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah Sumatera Utara dalam kasus penggunaan kembali Alat Rapid Test Antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara," ujar PT Kimia Farma dalam keterangan tertulis, Jumat (30/4/2021).

PT Kimia Farma menyebut menyerahkan penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian. Pihaknya meminta kasus ini diproses secara hukum dan pelaku diberi hukuman maksimal. Disebutkan, PT Kimia Farma akan melakukan evaluasi dan penguatan pelaksanaan SOP. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus serupa.

"Kimia Farma berkomitmen melakukan evaluasi dan penguatan pelaksanaan standard operating procedure (SOP) untuk memastikan seluruh kegiatan operasional sesuai ketentuan yang berlaku, sebagai upaya pencegahan kejadian serupa tidak terulang kembali," ujarnya.

Simak video 'Tes Antigen Bekas di Kualanamu Dilakukan Sejak Desember 2020':

[Gambas:Video 20detik]

(yld/gbr)