Round-Up

Taktik Bertahan Ngabalin Usai Sebut Busyro 'Otak Sungsang' Panen Kritikan

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 15 Mei 2021 21:05 WIB
Ali Mochtar Ngabalin dan Busyro Muqoddas (Repro detikcom)
Foto: Ali Mochtar Ngabalin dan Busyro Muqoddas (Repro detikcom)
Jakarta -

Perkara sebutan 'otak sungsang' yang dilontarkan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin kepada Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas berbuntut panjang. Ngabalin yang panen kritik karena ucapannya membela diri.

Keributan gegara 'otak sungsang' bermula dari pernyataan Busyro yang menilai KPK tamat di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ngabalin tak sependapat dengan Ketua PP Muhammadiyah yang pernah menjadi Ketua KPK itu.

"Otak-otak sungsang seperti Busyro Muqoddas ini merugikan persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan umat yang kuat dan berwibawa. Kenapa harus tercemar oleh manusia prejudice seperti ini," tulis Ngabalin lewat akun Instagram bercentang birunya, Kamis (13/5/2021).

Pernyataan Ngabalin itu menuai kritik dari Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas dan Ketua Umum Pemuda PP Muhammadiyah Sunanto. Ngabalin dinilai tak beradab dan malah merusak citra Jokowi.

"Menurut saya, Ngabalin lebih banyak merusak citra Jokowi daripada memperbaiki citra Jokowi. Lebih banyak masfadah (kerusakan). Jokowi menjadi terkesan antikritik, padahal Jokowi menyatakan dirinya terbuka terhadap kritik," kata Anwar Abbas.

Sementara Sunanto menilai Ngabalin yang mengatakan 'otak sungsang' ke Busyro terkesan sedang menunjuk diri sendiri. Sunanto menduga bahwa yang berotak sungsang adalah Ngabalin.

"Orang kalau nunjuk orang berotak sungsang, itu sebenarnya dirinya yang sungsang, otaknya yang sungsang. Kalau menunjuk orang otaknya sungsang, berarti dirinya. Karena, kalau menunjuk orang itu, menunjuk berarti 4 jarinya ke diri kita. Itu sebenarnya dirinya lagi ngomong bahwa otaknya lagi sungsang. Itu maksud saya," ujarnya.

Sunanto mengatakan kritik dari Busyro seharusnya dijawab pemerintah dengan penjelasan rasional. Dengan demikian, kata dia, itu tidak menjadi terkesan merusak citra Presiden Jokowi dengan mengerdilkan orang lain.

"Jadi bahwa apa yang disampaikan Pak Busyro seharusnya ditanggapi dengan penjelasan ilmiah. Saya kira begitu. Jadi mengkritik bahwa misal Pak Jokowi melemahkan KPK yang tinggal dibuktikan bahwa Pak Jokowi malah memperkuat, gitu. Dengan data-data kan beres, rasional gitu, tidak melebar pada serangan individu dengan mengerdilkan etika dan itu merusak citra Pak Jokowi juga karena menurut saya etika komunikasi Pak Jokowi kan santun gitu, santun dan tidak menjelekkan orang, ya diberesin aja," jelasnya.

Ngabalin membela diri ada di halaman selanjutnya: