Wabup Blitar Nilai OTT Bupati Nganjuk Janggal, Kabareskrim: Buktikan Saja!

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Rabu, 12 Mei 2021 19:12 WIB
Kabareskrim Polri, Komjen Agus Andrianto
Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto (Adhyasta Dirgantara/detikcom)
Jakarta -

Wakil Bupati (Wabup) Blitar Rahmat Santoso menilai ada kejanggalan dalam operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Bareskrim Polri. Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto meminta Rahmat membuktikan kejanggalan itu.

"Ya dibuktikan saja," ujar Agus, Rabu (12/5/2021).

Selain itu, Wabup Blitar berpendapat kalau kasus dugaan jual-beli jabatan oleh Bupati Nganjuk tidak masuk ke klasifikasi OTT. Lagi-lagi, Agus meminta Wabup Blitar agak membuktikannya di pengadilan.

"Buktikan saja di penyidikan dan pengadilan," katanya.

Sebelumnya, Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat menjadi tersangka dugaan kasus suap jual beli jabatan. Novi terciduk operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK bekerja sama dengan Bareskrim Mabes Polri. Wakil Bupati Blitar Rahmat Santoso menilai ada kejanggalan dalam OTT ini.

Ditemui di Surabaya, Rahmat mengatakan kasus Bupati Nganjuk bukan kategori OTT karena barang bukti Rp 600 juta lebih ini ditemukan di dalam brankas.

"Kalau sehubungan adanya penemuan tunai sekitar kurang lebih Rp 600 juta dalam brankas pribadi Bupati Nganjuk, menurut hemat saya, atas penemuan uang tunai di dalam brankas tidak masuk kategori OTT atau tertangkap basah melakukan suatu tindak pidana," ujar Rahmat yang juga menjabat Ketua Umum DPP Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), Rabu (12/5).

Rahmat menjelaskan, penyimpanan uang dalam brankas bukan perbuatan melawan hukum. Selain itu, uang Rp 600 juta yang ada dalam brankas Bupati Nganjuk masih dalam batas kewajaran.

"Apakah kepemilikan atau penyimpanan uang tunai di brankas adalah perbuatan yang dilarang oleh hukum positif di Indonesia? Undang-undang sama sekali tidak melarang untuk memiliki brankas ataupun menyimpan uang tunai di dalam brankas. Nilai dalam brankas pribadi Bupati Nganjuk, saya nilai juga masih wajar, memperhatikan profil pribadi Bupati Nganjuk yang juga sebagai seorang pengusaha sukses," ucapnya.

Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat sendiri terjaring operasi tangkap tangan (OTT) dan telah ditetapkan sebagai tersangka kasus jual-beli jabatan. Dari penangkapan tersebut, penyidik menyita uang Rp 647 juta lebih dari brankas di rumah Novi.

"Di dalam penangkapan itu, kita juga menyita uang yang diduga yang berkaitan dengan jual-beli jabatan sebesar Rp 647.900.000 juta itu kita amankan dari rumah di brankas Bupati Nganjuk," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono saat jumpa pers di Mabes Polri, Selasa (11/5).

Simak video 'Bupati Nganjuk Diduga Terima Setoran Rp 2-50 Juta dari Kepala Desa-Camat':

[Gambas:Video 20detik]

(man/man)