M. Jusuf, Sosok Jenderal yang Dirindukan

M. Jusuf, Sosok Jenderal yang Dirindukan

- detikNews
Sabtu, 11 Mar 2006 05:53 WIB
Jakarta - Hiruk pikuk kehidupan yang sarat dengan dinamika politik, membuat bangsa ini haus akan kehadiran tokoh yang patut diteladani dan dibanggakan. Teladan moral perilaku maupun semangat pengabdian pada Tanah Air. Ini tercermin pada sambutan Presiden Susilo B. Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) dalam acara peluncuran buku "Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit" semalam di Jakarta. "Kita merindukan sosok seperti Jenderal M. Jusuf. Sederhana, merakyat, dan berdedikasi tinggi," kata SBY. Salah satu pelajaran berharga yang dipetiknya dari jenderal kelahiran 23 Juni 1928 itu adalah tentang kepemimpinan. Peristiwanya terjadi akhir tahun 70-an saat M. Jusuf menjabat Menteri Pertahanan Keamanan dan Panglima ABRI (Menhankam Pangab) dan SBY berpangkat kapten. Meski harus seharian melakukan latihan fisik berat, para prajurit tetap bersemangat bahkan gembira. Sebab mereka tahu susu atau jus kacang hijau akan menanti di barak di setiap akhir latihan nanti. Keduanya ketika itu merupakan menu mewah bagi prajurit yang memang bergaji amat rendah. Hingga banyak prajurit yang hanya meminumnya sebagian lalu sisanya dibawa pulang ke rumah sebagai oleh-oleh bagi sang anak. "Tugas seorang pemimpin adalah melaksanakan tugas pokok agar berhasil seberat dan sebahaya apa pun. Berikutnya adalah mensejahterahjan prajuritnya. Kesejahteraan tidak harus serba benda. Tidak harus uang. Tapi sentuhan kasih sayang. Perhatian. Kedekatan jarak dengan anak buah. Semua ditunjukan oleh Pak Jusuf," papar SBY. Sementara JK dalam sambutannya menyoroti teladan dedikasi, kejujuran, kesederhanaan dan konsistensi pejabat Negara yang ditunjukkan dalam kehidupan keseharian M. Jusuf. Peristiwa berkesan itu terjadi sekitar tahun 1994 ketika M. Jusuf tidak lagi berada dalam struktur pemerintahan. Meski bukan petinggi negara, menurut JK seluruh perusahaan multinasional tetap berlomba menawarkan rumah hingga mobil keluaran terbaru pada M. Jusuf dan keluarganya. Sebagai pelaku bisnis, ia melihat kejadian tersebut sangat aneh. Karena kala itu yang lazim terjadi pengusaha hanya memberi "pelayanan" ke pejabat aktif. Sedangkan yang sudah pensiun dilupakan, karena bukan lagi pengambil keputusan. "Setelah saya tanya ke pengusaha-pengusaha itu, dijawab karena selama menjabat Pak Jusuf selalu menolak hadiah mereka dalam bentuk apa pun. Sekecil apa pun itu. Padahal saat menjabat, Pak Jusuf betul-betul mendorong dunia usaha untuk berkembang," tutur JK. (ddn/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads