Kalla: Tidak Ada Penyimpangan Supersemar

Kalla: Tidak Ada Penyimpangan Supersemar

- detikNews
Sabtu, 11 Mar 2006 03:59 WIB
Jakarta - Meski belum pernah membaca naskah aslinya, Wapres Jusuf Kalla (JK) menyakinkan bahwa tidak ada penyimpangan dalam penggunaan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) selama ini. Dokumen bersejarah itu kini berada di tangan mantan Presiden RI, Soeharto. Kepastian tersebut ia dapatkan lisan langsung dari (Alm.) Jenderal M. Jusuf , salah satu saksi mata keberadaan Supersemar, beberapa tahun silam. "Beliau menyampaikan, memastikan bahwa naskah asli Supersemar telah disampaikan ke Pak Harto. Yang sering disampaikan pada kita semua adalah draft awal. Tapi yang paling penting Supersemar itu benar ada dan tetap berjalan sebagaimana mestinya," kata JK. Pernyataan di atas disampaikannya pada sambutan peluncuran buku biografi Jend. M. Jusuf, semalam di Jakarta. Tema utama buku berjudul "Jend. M. Jusuf : Panglima Para Prajurit" ini mengakhiri polemik tentang Supersemar yang telah berlangsung 40 tahun terakhir. JK menuturkan secara pribadi ia sempat beberapa kali mendesak (Alm) Jend. M. Jusuf untuk mengungkap keberadaan Supersemar demi meredakan kontroversi yang terjadi. Tanpa alasan yang jelas, permintaan itu selalu ditolak. Hingga suatu hari mantan Menteri Pertahanan Keamanan dan Panglima ABRI (Menhankam Pangab) itu memintanya datang dengan iming-iming akan diperlihatkan naskah otentik Supersemar. Tapi ketika tiba saatnya, jenderal kharismatik itu berubah pikiran. "Ah, jangan kau lihat lah. Nanti kau cerita lagi ke orang-orang. Kita pernah lihat juga, yang penting Supersemar itu ada," tutur JK mengutip alasan M. Jusuf. M. Jusuf dalam pembicaraan di kediaman keluarganya di Makassar kala itu, selanjutnya membeberkan perannya dalam detik-detik penyusunan Supersemar bersama Jenderal Basuki Rahcmat dan Jenderal Amir Mahcmud. Selaku yang termuda diantara ketiganya, M. Jusuf mengumpulkan semua kertas berisi draft Supersemar yang mereka susun dan ketik. Sayangnya, jenderal kelahiran Bone 23 Juni 1928 itu tidak mengkonfirmasikan apakah isi dokumen yang disusunnya sama dengan yang diterimakan Presiden Soekarno ke Soeharto. "Saya kira begitulah pembicaraan-pembicaraan tentang hal tersebut. Walau pada akhirnya juga tidak ada satu pun yang pernah melihat dokumen tersebut. Beliau selalu berjanji menulisnya, tapi pada akhirnya juga tidak menulis secara detail tentang naskah itu," ujar JK. Jujur Pada SejarahMeski kebenaran Supersemar masih misterius, Presiden Susilo B. Yudhoyono (SBY) di dalam kesempatan sama, mengingatkan semua pihak tidak menyalahgunakannya untuk kepentingan politik sesaat. Tidak memutarbalikkannya. Melainkan harus meletakkan apa yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa depan secara adil dan konstruktif. Mengutip kata-kata Presiden Soekarno, SBY mengingatkan jangan sampai Indonesia melupakan dan meninggalkan sejarahnya. Sebaliknya harus mensyukuri dan mengambil pelajaran darinya "Akan menjadi bangsa yang merugi dan malang kalau kita tidak meletakan sejarah untuk keperluan pembelajaran dan kemudian membangun hari esok," ujarnya. (ddn/)


Berita Terkait