Ini Aturan Lengkap Salat Id Berjemaah di Jawa Timur

Abu Ubaidillah - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 21:55 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa
Foto: dok. Pemprov Jatim
Jakarta -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah mengizinkan penyelenggaraan salat Id. Namun penyelenggaraannya menggunakan pemetaan zonasi berbasis PPKM mikro, bukan zonasi kabupaten/kota.

Keputusan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Jatim Nomor: 451/10180/012.1/2021Tentang Penyelenggaraan sholat Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah/2021 di saat masa pandemi COVID-19 di Jawa Timur, Senin (10/5). SE ini dibuat usai diselenggarakannya Rapat Koordinasi Persiapan Sholat Idul Fitri 1442 Hijriyah di Gedung Negara Grahadi, Minggu (9/5) malam.

"Kalau menggunakan skala mikro, kepala desa, lurah, dengan melibatkan Babinsa dan Babinkamtibmas lebih mudah melakukan pemetaan. Ini menjadi penting, utamanya kemungkinan shaf yang rapat dapat dihindari karena jemaah akan dipecah di beberapa tempat," jelas Khofifah dalam keterangan tertulis, Selasa (11/5/2021).

Khofifah mengatakan dipilihnya salat Idul Fitri berbasis PPKM Mikro dikarenakan lebih fokus dalam memonitor pendisiplinan subbasis di tingkat RW dan desa. Langkah ini dinilai bisa mengatur warga agar dapat mengatur ibadah dengan baik.

Ia menambahkan dalam salat Id berjemaah, khutbah yang dilakukan hanya 7-10 menit serta surat yang dibaca kategori pendek, seperti Al-Ikhlas dan Al-Kafirun. Kegiatan takbiran, hanya dilakukan di masjid dengan jumlah 10% jemaah dari total kapasitas. Sementara takbir di jalan raya tidak akan diperkenankan.

"Artinya bahwa rasa untuk bisa melaksanakan salat Id bisa terpenuhi, namun protokol kesehatan bisa terjaga. Dan kalau ada panitia yang dibentuk, senantiasa bisa mengingatkan untuk tidak bersalaman," lanjutnya.

Ia mengimbau agar mulai dari lini terbawah untuk menyiapkan masker dan tempat cuci tangan bagi para jemaah sebelum memasuki masjid atau lapangan. Khofifah juga mengimbau untuk tetap dikawal agar tidak terjadi kerumunan dan interaksi di lini bawah.

Selain itu ia juga mengatakan protokol kesehatan ketat diharapkan bisa terlaksana dengan baik, termasuk diimbangi dengan dibentuknya kepanitiaan tingkat mikro. Menurutnya antisipasi ini berkaca pada peningkatan jumlah kasus Covid-19 pasca Idul Fitri tahun lalu. Saat itu usai Idul Fitri di Jatim terjadi peningkatan sebesar 150% dari jumlah sebelumnya.

"Saat libur Idul Fitri tahun lalu, kasus sebelumnya 200 per hari jadi 400 sampai 500 per hari. Ada juga kenaikan kasus pasca liburan Agustusan yang dari 400 kasus per hari jadi 650 per hari. Mohon ini dilihat dari satu kesatuan. Saya mohon unjung-unjung (berkunjung) antar tetangga tidak dilakukan, berwisata juga sangat dibatasi karena ini menjadi satu kesatuan proses yang dihawatirkan berdampak terhadap penyebaran COVID-19 jika tidak diwaspadai bersama, karena mobilitas masyarakat," jelas Khofifah.

Selain itu ia mengatakan peningkatan kasus signifikan pada libur akhir 2020 yang lalu, sebelumnya melandai dari 400 kasus per hari melonjak jadi 800-1.000 per hari ada kenaikan 225% dan menurutnya mobilitas masyarakat jika tidak diikuti disiplin protokol kesehatan bisa memicu peningkatan kasus.

Khusus para imam, muadzin, dan marbot juga diharuskan sudah vaksinasi. Selain itu jemaah juga diimbau untuk wudhu di rumah, membawa sajadah sendiri, dan memastikan membawa kantong kresek untuk menaruh alas kaki.

"Alas kaki wajib dimasukkan kantong, dibawa masuk ke dalam masjid, untuk menghindari kerumunan. Nantinya alas kaki wajib ditaruh di samping shaf sholat," imbuh Khofifah.

Ia mengatakan sebelum memasuki wilayah masjid, jemaah diwajibkan menggunakan masker. Selain itu juga perlu menyiapkan uang tunai untuk infak. Sebelum memasuki masjid jemaah juga akan dilakukan pengecekan suhu tubuh, masuk bilik sterilisasi dan mencuci tangan. Nantinya setiap masjid juga akan diwajibkan untuk jaga jarak sesuai dengan tanda shaf jemaah.

Pelaksanaan salat dan khutbah Idul Fitri diberikan durasi maksimal 30 menit saja. Ketetapan ini dilakukan untuk mempersingkat waktu melalui bacaan surat pendek dan durasi khutbah maksimal 7-10 menit saja. Khofifah juga mengimbau kepada masyarakat untuk segera pulang ke rumah setelah salat Idul Fitri.

"Prinsipnya menghindari kerumunan dengan penerapan protokol kesehatan," jelasnya.

Ia mencontohkan rencana pelaksanaan salat Id yang dipersiapkan di Masjid Al Akbar Surabaya (MAS). Rencana pelaksanaannya ditetapkan dengan format pendaftaran bagi calon jemaah, utamanya bagi daerah yang masuk dalam zona oranye.

"Hal ini kita lakukan, sehingga tidak ada yang tiba-tiba datang pagi, yang berkeinginan salat Id banyak, lalu akhirnya mereka berhimpitan. Setiap jemaah ditandai dengan id card. Bagi jemaah yang tidak memiliki id card tidak bisa salat Idul Fitri di masjid," imbuhnya.

Ia meminta seluruh masyarakat menindaklanjuti imbauan tersebut. Ia pun berharap masjid-masjid di Jawa Timur untuk mencontoh mekanisme yang dilakukan Masjid Al Akbar Surabaya, termasuk skema pendaftaran yang dilakukan secara online.

"Di Masjid Al Akbar, hanya dibatasi 6.000 jemaah, yakni 15 persen dari kapasitas masjid sebesar 40 ribu jemaah. Jemaah diberikan id card untuk membedakan jemaah pria dan jemaah wanita. Sangat kita mohon. Ini semua kita lakukan untuk kewaspadaan berganda," tegas Khofifah.

Khofifah juga menambahkan hal-hal terkait pelaksanaan salat Idul Fitri, seperti mengunjungi keluarga, takbiran, dan sebagaiya diharapkan tetap mematuhi imbauan pemerintah. Termasuk mengimbau untuk tidak melakukan takbiran keliling. Ia pun berpesan kepada masyarakat agar memastikan protokol kesehatan dijalankan dengan disiplin, detail, dan teliti.

"Kali ini, kita semua harus melakukan proses teridentifikasi, juga harus dilihat dengan persentase tertentu. Jadi kalau ada wilayah masih masuk dalam Zona Orange, maka maksimal kapasitas masjid hanya 15 persen. Oleh karena itu, mendaftarkan lebih awal, lebih baik," imbaunya.

Ia berharap proses pendaftaran para jemaah untuk mengikuti salat Id menjadi sesuatu yang penting, supaya jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan rasa aman. Menurutnya jika ada jemaah yang belum terdaftar karena kapasitas masjid penuh, maka diharapkan dapat melaksanakan salat Id di rumah saja.

Khusus tempat wisata, ia mengatakan Forkopimda Jatim sudah menyepakati kapasitas maksimum saat Idul Fitri 1442 Hijriyah hanya 25% saja.

"Kami sudah mendiskusikan dengan Pak Pangdam, Pak Kapolda bahwa kapasitas 25% saja untuk seluruh tempat wisata. Bisa dilihat dari jumlah tiket yang terjual dari jumlah total seluruh kapasitas," jelas Khofifah.

Nantinya setelah kapasitas penuh pihak Polri akan melakukan penyekatan di titik-titik tertentu untuk putar kembali. Ia mencontohkan jika sudah nomor polisi L tidak bisa ke Kota Batu, nanti akan dilakukan pemutaran kendaraan.

Khofifah juga mengatakan, wisata merupakan satu paket dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Agar sinergitas antar Kepala Daerah dan seluruh elemen tetap terlaksana, dirinya meminta agar ada koordinasi di tingkat bawah.

"Begitu juga di tingkat desa, seperti Babinsa, Babinkamtibmas harus bersinergi untuk mengendalikan mobilitas masyarakat," pungkasnya.

Sebagai informasi, rakor yang dipimpin Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa tersebut juga diikuti secara luring Plh. Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono, Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI Agus Setiawan, Wakapolda Jatim Brigjen Pol. Slamet Hadi Supraptoyo, Kepala Kanwil Kemenag Jatim Ahmad Zayadi, Ketua PW Muhammadiyah Jatim M. Saad Ibrahim, Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, Ketua LDII Jatim M. Amrozi Konawi, dan Sekretaris MUI Jatim Hasan Ubaidillah.

(prf/ega)