Edhy Prabowo Sesalkan Aria Bima Dicatut Stafnya Saat Urus Ekspor Benur

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 19:32 WIB
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo jalani sidang lanjutan. Sejumlah saksi dihadirkan dalam sidang terkait kasus korupsi ekspor benur tersebut.
Edhy Prabowo saat di ruang sidang (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Stafsus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi, disebut mencatut nama politikus PDIP, Aria Bima, demi mulusnya izin ekspor benur salah satu perusahaan. Edhy Prabowo menyesalkan pencatutan itu.

Pencatutan ini terungkap dari BAP ASN Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Anton Setyo Nugroho. Anton mengatakan Andreau sempat menyebut nama politikus PDIP Aria Bima berkaitan dengan PT Anugrah Bina Niha (ABN). Menurut Anton, pencatutan nama Aria Bima itu untuk memperlancar urusan PT ABN.

"BAP nomor 18 tentang adanya pernyataan yang beliau (Anton) dengar dari saudara Andreau bahwa saya bisa diyakinkan oleh Saudara Aria Bima untuk mendukung atau menyetujui salah satu perusahaan itu tidak benar. Sudah jelas pattern mekanisme yang saya bentuk saya bangun di KKP 1 tahun saya menjabat itu dengan prosedur yang sudah ada intervensi apapun pasti akan dilakukan, tapi keputusan akhirnya tetap dengan mekanisme yang ada," kata Edhy menanggapi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (11/5/2021).

"Jadi nggak mungkin perusahaan tidak lulus saya paksakan lulus. Saya memang mengenal Aria Bima, sangat dekat sering ketemu di lapangan badminton, dan teman di DPR RI, jadi nggak ada kaitannya urusan pekerjaan dengan KKP, makanya saya menyesalkan beliau dibawa-bawa di sini," tambahnya.

Sementara itu, Andreau Misanta juga menanggapi pernyataan Anton terkait penerimaan uang Rp 2,5 miliar melalui ajudannya. Andreau membantah hal itu.

Namun, terkait pemberian Rp 100 juta Andreau membenarkan. Tapi Andreau mengklaim kalau sudah mengembalikan uang itu.

"Terkait Rp 100 juta saya nyatakan benar. Tapi setelah 3 hari diberikan saya kembalikan ke !nton. Saya tidak tahu kalau itu uang, pas saya buka dokumen ternyata uang," ujar Andreau.

"Saya tidak menerima pengembalian," timpal Anton.

Saksi dari Perusahaan Ungkap Arahan Edhy

Lebih lanjut, dalam sidang ini ada saksi dari perusahaan, yakni Dirut PT Samudera Bahari Sukses Bambang Sugiarto mengungkap sejumlah arahan Edhy terkait ekspor benur. Apa saja?

"Saya ingat banget yang paling kami sampai sekarang terngiang bahwa Pak Edhy memberikan satu arahan yang sifatnya positif, jangan sampai ada penyimpangan dalam eksportir benur, jangan sampai ada penyimpangan mengenai legalitas ini. Sampai kamu macam-macam, kurang lebih bahasa becandanya, tujuh turunan kamu tak ini... ada bahasa becandanya. Artinya substansi pengarahan itu kita diminta untuk kerja jujur, itu saja sih Pak," ucap Bambang.

Menurut Bambang, saat dia bertemu dengan Edhy itu dia diminta pengusaha merangkul nelayan. Dia juga mengaku tidak menjanjikan apapun ke Edhy.

"Bukan memberikan sesuatu, tapi ada arahan beliau untuk benar-benar merangkul nelayan, dan diharapkan kalau sudah mulai jalan bentuk lah koperasi untuk mewadahi para nelayan itu, dan tidak ada sepatah kata pun ketika kamu ramai ingat saya, nggak ada imbauan atau petunjuk Pak Edhy seperti itu, dan kami tidak menjanjikan apa pun," ucap Bambang.

Simak juga 'Cerita Saksi soal Edhy Prabowo Minta Rp 5 M untuk Izin Budidaya Benur':

[Gambas:Video 20detik]

(zap/haf)