Terungkap Alasan Stafsus Edhy Prabowo Catut Aria Bima Demi Ekspor Benur

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 14:40 WIB
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo hadir langsung di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta. Hari ini, untuk pertama kali Edhy Prabowo hadir langsung di ruang sidang terkait kasus ekspor benur.
Edhy Prabowo. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Andreau Misanta Pribadi mengaku mencatut nama politikus PDIP Aria Bima demi mulusnya izin ekspor benur salah satu perusahaan. Andreau merupakan staf khusus dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo.

Bermula dari berita acara pemeriksaan (BAP) atas nama Anton Setyo Nugroho. Dia merupakan ASN di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Meski berstatus sebagai PNS di Kemenko Marves, Anton diberi tugas membantu di KKP. Saat itu Anton dihubungi Sukanto Aliwinoto selaku pemilik PT Anugrah Bina Niha atau PT ABN untuk pengurusan izin ekspor benur di KKP.

Anton mengaku mendapatkan Rp 2,6 miliar dari Sukanto untuk memuluskan perizinan itu. Setelahnya Anton berkoordinasi dengan Andreau sekaligus menyerahkan uang itu. Disebutkan Rp 2,5 miliar ditujukan untuk dana partisipasi perizinan dan Rp 100 juta untuk Andreau pribadi.

"Apakah pada saat saksi serahkan uang tersebut, Pak Andreau katakan uang ini untuk Pak Menteri (Edhy Prabowo)?" tanya jaksa KPK pada Anton yang duduk di kursi saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (11/5/2021).

"Disampaikan itu ada, tapi saya nggak tahu pasti apakah itu ke Pak Menteri atau tidak," jawab Anton.

Selain itu Anton mengatakan Andreau sempat menyebut nama politikus PDIP Aria Bima berkaitan dengan PT ABN. Menurut Anton, pencatutan nama Aria Bima itu untuk memperlancar urusan PT ABN.

"Jadi untuk meyakinkan Pak Menteri kalau PT Anugerah Bina ini dibawahi oleh Bapak Aria Bima," kata Anton.

"Siapa Aria Bima?" tanya hakim.

"Setahu saya politikus PDIP. Saya dengar Pak Andreau gitu. Jadi dia (Andreau) bilang 'Ton ini nanti saya sampaikan ke Pak Menteri bahwa PT yang kamu bawa ini di bawah koordinasi Pak Aria Bima'," ucap Anton.

Mendengar itu ketua majelis hakim Albertus Usada meminta penjelasan lebih detail pada Anton. BAP Anton lantas dibacakan. Begini isinya:

BAP 18, selain itu Andreau pernah bilang ke saya bahwa untuk meyakinkan Edhy Prabowo agar setuju terkait beri izin ekspor BBL ke PT Anuegrah Bina Niha, maka Andreau akan sampaikan ke Edhy Prabowo bahwa PT Anugrah Bina Niha perusahaan di bawah Aria bima (politikus PDIP). Walaupun pada kenyataannya PT ABN milik Sukanto Aliwinoto bukan milik Aria Bima.

"Beginikah?" tanya hakim ke Anton.

"Ya, jadi Andreau sampaikan saya akan ke menteri bahwa PT ABN di bawah Pak Aria Bima," ucap Anton.

"Kenyataannya?" tanya hakim lagi.

"Bukan. (Pemiliknya) Sukanto," tegas Anton.

"Jangan sampai muncul fitnah ya hati-hati nyebut nama seseorang ya," kata hakim.

Diketahui, Andreau Misanta Pribadi adalah terdakwa dalam kasus ini. Andreau adalah stafsus Edhy Prabowo sekaligus Ketua Tim Uji Tuntas Perizinan Budi Daya Lobster.

Andreau didakwa bersama Edhy Prabowo dkk menerima uang suap yang totalnya mencapai Rp 25,7 miliar dari pengusaha eksportir benih bening lobster (BBL) atau benur. Jaksa mengatakan Edhy menerima uang suap dari beberapa tangan anak buahnya.

Selain Andreau dan Edhy, ada juga Safri selaku stasfus Edhy dan Wakil Ketua Tim Uji Tuntas, Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Iis Rosita Dewi, serta Sidwadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK). Semuanya terdakwa dalam sidang hari ini.

(Sebagian isi berita di-update setelah ada penjelasan lebih lanjut dari jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK soal status pekerjaan Anton)

Simak Video: Cerita Saksi soal Edhy Prabowo Minta Rp 5 M untuk Izin Budidaya Benur

[Gambas:Video 20detik]



(zap/dhn)