Analisis Pakar soal Fenomena Warga Ngotot Mudik Meski Dilarang

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 08:27 WIB
Jakarta -

Warga berupaya dalam berbagai hal untuk bisa mudik ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri. Epidemiolog melihat kewaspadaan masyarakat terhadap penularan virus Corona sudah hilang.

"Massa ini, mereka tak akan peduli, memikirkan virus lagi. Orang memikirkan keinginan yang sudah lama, kemudian masalah keterbatasan yang belum dapat solusi efektif," kata epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, saat dihubungi, Senin (10/5/2021).

Dia melihat sikap tak acuh masyarakat muncul karena kebijakan penanganan pendemi COVID-19 oleh pemerintah dinilai tidak konsisten. Kondisi ini membuat massa memilih mudik meski ada penyekatan di beberapa titik.

Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh Dicky Budiman)Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh Dicky Budiman)

"Yang terjadi saat ini, banyak hal. Pemerintah tidak konsisten, ada kebijakan pengetatan di sisi lain pelonggaran. Ada kebijakan mengetatkan, tidak boleh mudik. Tapi terkesan ada pelonggaran, ketika masuk arus WNA (warga negara asing), atau pelonggaran di aspek lain, ini menimbulkan potensi distrust," ucapnya.

Menurut Dicky, pemerintah harus menjaga kepercayaan dari masyarakat. Menurutnya, dalam kondisi ini, tidak boleh ada tindakan represif terhadap masyarakat.

"Kalau represif itu berbalik bahaya. Mereka sudah susah, kepatuhan itu terjadi kalau situasi terbukti terkendali. Artinya, ada banyak hal bisa terkendali di konsistensi, komitmen," katanya.

Seharusnya, masalah pelarangan mudik sudah jauh-jauh hari diantisipasi pemerintah. Kini, saat masyarakat mulai nekat mudik, pemerintah harus mempersiapkan penanganan arus balik.

"Apa yang harus dilakukan. Penguatan respons antisipasi pasca-mudik. Sulit saya bilang, sulit. Massa, sudah nggak bisa kita melawan (massa) dalam kondisi ini, ada faktor trust," ujarnya.

Sebelumnya, ratusan pemudik diloloskan polisi dari penyekatan Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat. Pemudik yang didominasi kendaraan roda dua itu diperbolehkan jalan setelah terjadi kemacetan parah.

Pantauan detikcom pada Minggu (9/5) pukul 22.47 WIB, pemotor diperbolehkan melintas ke arah Karawang. Polisi yang tadinya menyekat dengan barier plastik oranye akhirnya membuka.

Hal itu kemudian terjadi lagi pada Senin (10/5) malam. Pos Kedungwaringin dibuka sehingga para pemudik bebas melintas tanpa pemeriksaan.

Kakorlantas Polri Irjen Istiono mengatakan ratusan pemudik yang diloloskan di pos penyekatan Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat, merupakan diskresi kepolisian. Istiono mengatakan hal itu sebagai langkah mengurangi kerumunan.

"Ya, ratusan pemudik yang mencoba ya, ini bahasanya bukan menerobos ya. Ini memang kita kelola, kita alirkan, ini adalah diskresi kepolisian, kalau sudah terjadi penumpukan yang besar, ini terjadi sebuah kerumunan penumpukan yang kita hindari adalah menjadikan klaster baru di kerumunan antrean tersebut," kata Istiono di Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5).

(aik/jbr)