Kolom Ramadhan

Ramadhan dan Siar Moderasi Islam

Ngasiman Djoyonegoro - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 07:00 WIB
One day One Hadits berpuasa ketika melihat Hilal
Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

Ceramah-ceramah agama kerap kali menghiasi layar kaca setiap momentum Ramadhan tiba. Hampir semua stasiun televisi berlomba-lomba menggelar acara siraman rohani dalam menyiarkan beragam paham keagamaan yang sejuk kepada seluruh pemirsa di negeri ini. Sebagian besar narasumber mengulas seputar tasawuf terkait hikmah, dan puasa Ramadan.

Bulan suci ini memikat naluri hati umat Islam untuk menyelami dimensi ilmu sufi. Hal itu sungguh menawarkan fitrah kehidupan umat menjadi lebih suci, seraya memperbaiki citra diri baik secara jasmani maupun rohani. Introspeksi ini mengajak umat Islam untuk berpikir, dan bertindak sesuai kaidah sufi serta moderasi.

Manusia sufi menggerakkan moderasi Islam sebagai agama yang terus adaptif dalam kehidupan sosial politik dan ekonomi. Terutama, dalam meningkatkan pahala ibadah, memperbanyak baca al-Qur'an dan menggali wawasan keislaman di berbagai majelis. Nilai-nilai spritual ini yang membuat mindset umat Islam berpikir tawassuth, tasamuh, dan tawazun.

Firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah: 143, (wa kadzalika ja'alnakum ummatan wasathan) "Telah kami jadikan kamu sebagai umat yang moderat." Sejatinya umat moderat adalah manusia harus beraktualisasi, dan beradaptasi dengan zaman yang sudah modern ini. Situasi demikian yang mengantarkan umat Islam fokus memajukan peradaban.

Penulis mengajukan pertanyaan dasar. Kenapa di bulan puasa Ramadan ruang-ruang dunia maya tetap masif hate speech, intoleransi, pengkafiran, dan perilaku lain yang tampak ekstrem. Padahal, Allah Swt di bulan Ramadan telah memberikan peluang emas bagi mereka untuk berbenah diri supaya terhindar dari kata-kata keji, provokasi, mencaci-maki, gibah, menebar hoaks, menyakiti orang lain, dan memancing api permusuhan.

Perilaku-perilaku umat yang terjebak oleh akhlak tercela tersebut menunjukkan isyarat bahwa krisis keteladanan moral diakibatkan lemahnya mereka dalam mengamalkan nilai-nilai tasawuf dan moderasi Islam. Narasumber pemuka agama Islam di Tanah Air ini mempunyai kewajiban konstitusional untuk mengevaluasi melalui sajian siraman rohani.

Memelihara Persaudaraan
Ramadan merupakan ritual Islam yang menjadi penyejuk umat Islam dalam melatih diri dengan merawat kesunyian dan kedamaian hati. Sedangkan moderasi Islam sebagai aturan modern umat beragama untuk berdamai dengan Allah, dan sesama manusia. Perdamaian ini yang dikategorikan islah bil bathiniyah wa lahiriyah demi terciptanya peradaban.

Artinya, peradaban itu tercipta oleh umat Islam yang menjauhkan diri dari perilaku yang tatharruf, ghulluw, tanattuk, dan mujwazzat al-had atau berlebih-lebihan hingga melawati ambang batas. Pasalnya, puasa ramadan itu disambut dengan hati yang lapang, dan welas asih. Sifat-sifat luhur tersebut yang harus diteladani dari seorang sufi, yaitu Rasulullah Saw.

Moderasi Islam dan Ramadan adalah satu kesatuan yang menjadi pelekat hubungan tali persatuan dan persaudaraan kokoh. Meskipun belakangan ini dunia maya sering kali dihebohkan dengan krisis mata air keteladanan, yakni maraknya narasi kebencian, intoleransi, dan perpecahan. Parameter tersebut hanya menghendaki adanya perselisihan dan perpecahan.

Menurut Sayyidina Umar bin Khattab ra., puasa sejati bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Tetapi, menahan diri agar tidak berdusta, berbuat batil, dan omong kosong. Islam pun menegaskan esensi moderasi tujuannya agar manusia menjadi umat sejati yang berbudi luhur dan pekerti, toleran, tawadhu', bijaksana, dan berkata santun demi persaudaraan.

Nasrullah Ainul Yaqin megutip pendapat Yusuf al-Qardawi dalam kitab (Kaifa Nata'amal ma'a al-Qur'an al-'Azim: 1999) mengatakan, bahwa keteladanan moderasi Islam didasarkan kepada tiga unsur persaudaraan. Pertama, persaudaraan sesama manusia (ukhwah basyariyah). Kedua, persaudaraan sesama Muslim (ukhwah Islamiyah). Ketiga, persaudaraan kebangsaan (ukhwah wathaniyah).

Pada momentum ramadan ini, umat Islam tidak hanya mendapatkan pahala karena beribadah puasa, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sunnah. Namun, pahala dan rezeki manusia akan bertambah melimpah ruah ketika hubungan silaturahmi persaudaraan terjalin kuat. Hal itu cukup sering digaungkan oleh ulama-ulama NU (Nahdlatul Ulama).

Ramadan dan Keteladanan

Puasa Ramadan dapat membentuk akhlak manusia terjaga dari segala aksi keburukan yang menghantui umat Islam, khususnya di bulan yang mulia ini. Rasulullah Saw adalah nabi yang agung mengajarkan umatnya untuk hidup damai, tentram, toleran, serta sopan-santun kepada siapa pun. Karena pada hakikatnya, memelihara akhlak adalah sumber keteladanan.

Keteladanan Rasulullah tidak hanya bagaimana menjaga akhlak di hadapan Allah, melainkan bersikap rendah hati dan menghormati kepada umat non-Muslim yang tidak berpuasa. Sisi spritulitas umat Islam yang teladan bukan sekedar berpuasa di bulan ramadan saja, tetapi juga menyiarkan moderasi Islam yang tujuannya adalah mewujudkan toleransi beragama.

Pada dasarnya, ramadan dan moderasi Islam sebagai pedoman spritual yang melahirkan umat yang menjunjung tinggi adab, dan moral. Sehingga terciptalah etika sosial yang membuat umat Islam di belahan mana pun bergairah meneladani. Refleksi tasawuf modern ini tujuannya adalah untuk mendekatkan manusia pada perilaku yang ramah, dan lemah lembut.

Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dus mengatakan, jika kita muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa. Pandangan Gus Dur justru bukan menyepelekan pentingnya syariat agama, sebaliknya ia ingin Islam menjadi agama yang menampilkan keteladanan Rasul (mulia) lewat perilaku manusianya.

Akhirnya, siraman rohani di bulan suci Ramadan ini membutuhkan penceramah agama yang mengkorelasikan hubungan Ramadan dan siar moderasi Islam. Di era digital, moment puasa perlu menghadirkan wahana kehidupan yang tentram, damai, dan toleran. Semangat keberagamaan seperti ini tidak lain bertujuan meramahkan dunia maya melalui ajaran Islam.


Ngasiman Djoyonegoro


Penulis adalah Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)