Bojonegoro Bangun Kota Baru di Blok Cepu
Jumat, 10 Mar 2006 13:56 WIB
Bojonegoro - Luar biasa! Perkembangan Kecamatan Ngasem yang terletak 17 kilometer sebelah barat ibukota Bojonegoro di masa mendatang akan sangat istimewa seiring dengan berjalannya proyek eksploitasi minyak dan gas Banyuurip - Jembaran Blok Cepu yang berpusat di Desa Mojodelik itu.Di dalam perencanaan dan penyusunan Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) yang didapat detikcom, terlihat cukup jelas proyeksi ke depan wilayah Kecamatan Ngasem yang luasnya 10.099,67 hektar ini akan menjadi semacam kota baru sebagai pendukung ibukota Bojonegoro yang selama ini lebih dikenal berjuluk kota banjir ini .Tahapan pembangunan di wilayah berpenduduk 1,3 juta jiwa ini disusun secara bertahap. Tahap I kurun waktu 2003-2008 dan tahap kedua 2008-2013. Pusat pengembangan kota yang orientasinya pada sektor pelayanan ini terbagi pada tiga wilayah."Kita hanya konsentrasi penataan yang termasuk di dalam wilayah sumur minyak. Saat ini itu semua masih dalam rancangan," kata Plt Bappeda Kabupaten Bojonegoro, Suwarto, kepada detikcom, Jumat (10/3/2006).Lahan yang dibutuhkan ExxonMobil seluas 800 - 1000 hektar, akan dimanfaatkan sebagai lahan utama proyek pusat produksi dan pengolahan minyak dan gas. Di lahan tersebut juga dibangun sejumlah fasilitas penunjang. Fasilitas penunjang itu antara lain perkantoran, pemukiman tenaga kerja proyek, air bersih, waterflood, lapangan terbang, rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan lainnya. Di Desa Sudu, misalnya, nantinya dibangun 44 unit rumah dan satu musala. Di Desa Bonorejo didirikan 10 unit rumah, 2 unit sekolah, dan 1 pos keamanan.Sedang di Desa Gayam dibangun 26 unit rumah, 1 musala, dan 3 unit sekolah. Untuk lapangan terbang, terletak di Desa Ringin Tunggal. Panjang landasan pacunya berkisar 400-500 meter.Dari sekitar 1.000 hektar lahan yang dibutuhkan untuk eksplorasi, eksploitasi dan pengembangan proyek migas Blok Cepu di Bojonegoro ini, sebagian besar lahan yang akan terkena pembebasan adalah tanah pertanian dan tegalan. Ada 9 desa di Kecamatan Kalitidu dan Ngasem yang lahan pertanian dipastikan terkena proyek ini. Di Desa Cengungklung, lahan yang terkena seluas 8,21 hektar; Desa Ringin Tunggal 125,79 hektar; Desa Begadon 79,50 hektar; Desa Sudu 69,50 hektar; Desa Prabuwan 216,20 hektar; Desa Bonorejo 114,53 hektar; Desa Mojodelik 189,58 hektar; Desa Gayam 175,26 hektar; dan Desa Katur 3,85 hektar.Kembali ke RUTRK, untuk pengembangan wilayah barat diorientasikan di Desa Bonorejo. Sedangkan wilayah tmur dipusatkan di Desa Gayam. Semantara Desa Ngasem sendiri tetap sebagai prioritas pusat area pengembangan.Struktur kegiatan di Kota Ngasem nantinya diusulkan sebagai pusat pelayanan komersial dan pusat administrasi pemerintahan dengan tingkat skala lokal dan regional serta penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa.Kawasan di sepanjang jalan-jalan utama di seputar kota diarahkan untuk lokasi fasilitas umum dan perkantoran. Kawasan di Desa Ringin Tunggal sebagai pusat industri hilir yang menunjang kegiatan lapangan minyak Banyuurip.Dimana pemukiman penduduk? Tingkat kepadatan sedang dan rendah, rencananya akan ditempatkan di sepanjang jalan utama di luar pusat kota. Kawasan di sekitar dusun-dusun yang ada diarahkan untuk pemukiman padat dan sedang. Secara menyeluruh, pengembangan Ngasem diorganisasikan atas wilayah - wilayah pengembangan kota yaitu:1 Bepusat di Balai Desa Bonorejo dan wilayah peripheral main entrance Banyuurip Oilfiled yang memiliki luas 1816,72 hektar. Wilayah ini meliputi administrasi Desa Mojodelik dan Bonorejo,2. Berpusat di persimpangan pasar di Desa Gayam. Wilayah ini meliputi administrasi empat desa, yakni Brabowan, Begadon, Ringintunggal dan Gayam. Luasnya mencapai 2970,21 hektar.3. Berpusat di pertigaan kantor Kecamatan Ngasem. Wilayah administrasinya berlokasi di Desa Ngasem, Dukuh Kidul dan Ngadiluwih. Luas wilayahnya 1161,29 hektar.Informasi yang dihimpun, bahwa untuk menunjang Blok Cepu ini, pemerintah Bojonegoro juga berencana mambangun jalur lintas selatar termasuk dengan fly over- nya segala. Keinginan ini untuk mengantisipasi kepadatan transportasi di masa yang akan datang. "Semua itu masih dalam bahasan. Termasuk dengan wacana lapangan terbang komersial. Sebab kabarnya Bandara Jaunda akan dikembangkan ke Lamongan. Semua akan dikaji lebih mendalam sesuai dengan kebutuhan," jelas Suwarto.
(nrl/)











































