Blak-blakan Gus Miftah

Gus Miftah Ibaratkan Keragaman di Indonesia Seperti Sambal

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 09 Mei 2021 09:10 WIB
Jakarta -

Miftah Maulana Habiburrahman mengibaratkan keragaman di Indonesia seperti sambal. Kenapa sambal menjadi nikmat? Karena dia berangkat dari bahan dasar dan bahan baku yang berbeda. Di situ ada cabai, bawang, garam, terasi, dan tomat, kemudian ditumbuk di dalam satu tempat dengan tidak menghilangkan identitas masing-masing.

"Coba Anda bayangkan kalau makan sambal dimulai dengan cabai, lalu bawang, terasi dan seterusnya. Kan nggak enak! Jadi keindahan itu bila kita berada dalam satu tempat dengan tidak menghilangkan identitas masing-masing. Begitulah keragaman dalam berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta ini," papar lelaki yang popular disapa Gus Miftah itu dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Jumat (7/5/2021).

Pengasuh Pondok Pesantren Oro Aji di Sleman, Yogyakarta, itu juga mengibaratkan Indonesia sebagai rumah besar dengan sedikitnya enam kamar. Ada kamar Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Selama orang Indonesia kembali ke kamar masing-masing, tidak akan terjadi masalah.

Tapi menjadi masalah ketika kita kembali ke kamarnya orang lain. Tidak usah melakukan itu, apalagi kemudian mengintervensi, tidur bahkan ngompol di kamar orang lain. "Jadi, mari tinggal di kamar masing-masing," ujarnya.

Gus Miftah menyampaikan dua pengibaratan itu dalam orasi kebangsaan saat peresmian Gereja Bethel Indonesia Amanat Agung di Penjaringan, Jakarta Utara, akhir April lalu. Materi yang disampaikan selama 11 menit itu sama sekali tidak membahas persoalan akidah. Sebab, masing-masing sudah jelas dan tegas batasnya sesuai prinsip, 'Lakum dinukum waliyadin'. Tapi dalam persoalan muamalah sebagai sesama ciptaan Allah, tentu sudah sewajarnya untuk saling tolong, bergotong-royong.

"Materi orasi saya itu berisi tentang Pancasila, kebinekaan, kerukunan, toleransi, dan sebagainya. Saya gambarkan inilah indahnya Indonesia," beber pria kelahiran Lampung, 5 Agustus 1981, tersebut. Tapi oleh sebagian orang langkah tersebut dianggap sesat, bahkan Gus Miftah kemudian dikafirkan.

Dia menegaskan kehadirannya itu bukan untuk mengikuti peribadatan, sembahyang, maupun misa. Menyampaikan orasi atau pesan-pesan kebangsaan dan perdamaian, kata Gus Miftah, juga pernah dilakukan oleh ulama pendahulunya. Dia antara lain menyebut mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid, KH Abdullah Gymnastiar, dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

"Gubernur DKI Anies Baswedan juga memberikan sambutan, kenapa cuma saya yang dipersoalkan?" ujarnya.

(deg/jat)