Kasus Bocah Dianiaya Gara-gara Main Api di Tangerang Dihentikan

Yulida Medistiara - detikNews
Jumat, 07 Mei 2021 16:31 WIB
Ilustrasi kasus hukum atau salah tangkap
Ilustrasi (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Kejaksaan Negeri (Kejari) kota Tangerang menghentikan penuntutan kasus bocah yang dianiaya akibat bermain api hingga menimbulkan asap. Hal itu sebagai upaya pemberian keadilan restorative justice.

Kepala Kejari Kota Tangerang I Dewa Gede Wirajana mengatakan pemberian keadilan restoratif dalam kasus tersebut sesuai dengan Peraturan Kejaksaan RI No 15/2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif. Wirajana menyebut telah ada 2 kasus di Banten yang diterapkan restorative justice.

"Ya, perlu diketahui bahwa di Provinsi Banten baru dua kasus yang dilakukan keadilan restoratif, yaitu di Kota Cilegon dan Kota Tangerang," kata I Dewa Gede Wirajana didampingi Kasi Pidana Umum Kejari Kota Tangerang Dapot Dariarma dalam keterangan tertulis, Jumat (7/5/2021).

Kejari Kota Tangerang melakukan proses selama dua pekan sebelum melakukan penghentian penuntutan kasus tersebut. Dalam rentang waktu itu, pihak Kejari telah mendamaikan kedua belah pihak, serta ekspose kasus ke Kejati dan Jampidum Kejaksaan Agung (Kejagung).

"Jadi, menurut saya tidak begitu panjang, tapi ada tahapan-tahapan yang harus kita lakukan seperti tahapan harus berunding mengumpulkan para pihak, tersangka dan korban untuk melakukan upaya perdamaian. Dari situ, bisa disimpulkan upaya perdamaian," ungkapnya.

Sementara itu, dalam kasus ini, tersangka berinisial FA. FA disangkakan melanggar Pasal 80 ayat 1 UU No 35/2014 tentang Perubahan atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Awal mula kasus itu, tersangka FA melakukan pemukulan terhadap bocah berusia belasan tahun di depan rumahnya di Kota Tangerang, beberapa waktu lalu. Pemukulan tersebut dilakukan setelah tersangka menegur korban untuk memadamkan api yang dibakar pada sampah, karena asapnya mengganggu sang bayi yang berada di rumahnya.

"Kasusnya pada suatu hari di depan rumah pelaku, si korban membakar sampah kemudian asapnya masuk ke dalam rumah pelaku. Pelaku ada bayi karena keberatan, kemudian menegur korban," jelasnya.

Namun, saat ditegur, si bocah malah melontarkan kata-kata yang tidak pantas hingga membuat pelaku emosi.

"Kemudian pelaku memukul korban dengan tangan sebanyak dua kali mengenai pelipis kanan-kiri korban," ucap Wirajana.

Atas langkah penghentian penuntutan itu, Jampidum memberikan apresiasi terhadap Kejari Kota Tangerang.

(yld/dhn)