Muhammadiyah: Indonesia Overdosis Eksplor Radikalisme pada Islam

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Kamis, 06 Mei 2021 15:52 WIB
ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir
Haedar Nashir (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengkritik perihal tajamnya fenomena penyematan radikalisme kepada umat Islam. Haedar menilai penyematan semacam itu bermasalah, tak hanya secara akademik dan historis tapi juga bagi kerja-kerja moderasi kelompok Islam.

"Kami juga melakukan kritik, Indonesia juga overdosis ketika mengeksplor radikalisme-ekstremisme itu pada Islam. Dan itu kekeliruan besar sebenarnya," kata Haedar saat berbicara dalam forum Center of Southeat Asian Social Studies Universitas Gadjah Mada seperti dalam keterangan tertulis yang dikutip, Kamis (6/5/2021).

Muhammadiyah menggunakan metode moderasi dalam menghadapi radikalisme dan ekstremisme. Salah satunya dengan memperluas dakwah dengan penekanan sikap tengahan atau wasathiyah Islam.

Cara moderasi ini dianggap lebih efektif menghentikan radikalisme yang tak berkesudahan. Haedar mengatakan bakal ada situasi kontraproduktif jika radikalisme hanya disematkan kepada umat Islam.

"Ketika radikalisme dan ekstremisme hanya disematkan pada Islam, itu nanti akan kontraproduktif dan menggeneralisasi. Kami yang hadir di titik moderat itu juga berat menghadapinya," ujar Haedar.

Dari lensa yang lebih luas, kata Haedar, gejala radikalisme tak hanya berlaku pada agama. Menurut dia, radikalisme juga terjadi pada kelompok yang terlalu nasionalis sehingga menganggap hal-hal yang berkaitan dengan agama mengancam eksistensi negara.

"Bagi sosial politik yang berdimensi nasionalisme juga ada kecenderungan radikalisme melalui ultra nasionalis, tidak suka dengan mereka yang membawa agama. Begitu mendengar agama itu alergi," tutur Haedar.

Lihat juga Video "BNPT: Hasil Survei, Angka Radikalisme di RI Alami Penurunan":

[Gambas:Video 20detik]

(knv/fjp)