Mudik Dilarang, Masyarakat Diingatkan Tak Tergiur Travel Gelap

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 06 Mei 2021 14:23 WIB
Puluhan mobil travel terjaring penyekatan di Karawang, Jawa Barat. Mobil-mobil travel itu diketahui membawa sejumlah penumpang sembunyi-sembunyi atau ilegal.
Foto: Yuda Febrian Silitonga/detikcom
Jakarta -

Larangan mudik sudah mulai diberlakukan hari ini. Masyarakat diimbau tidak nekat melakukan mudik lewat berbagai cara, salah satunya menggunakan jasa travel gelap.

Dalam periode larangan mudik kali ini, pemerintah telah memberlakukan berbagai larangan kepada pengguna jalan baik itu kendaraan pribadi atau umum dengan menempatkan titik-titik penyekatan di beberapa tempat. Sanksi tegas juga telah menunggu bagi masyarakat yang masih nekat mudik.

Staf Khusus Menteri Perhubungan yang juga Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati mengatakan apabila di titik-titik penyekatan ditemukan penumpang yang tidak memenuhi syarat, maka sanksi paling ringan adalah kendaraannya diputarbalikkan.

"Sementara untuk kendaraan umum yang tidak punya izin atau tidak resmi mengangkut penumpang yang ternyata tidak memenuhi syarat itu juga sama. Itu terpaksa harus diputar balik," ungkap Adita dalam Talkshow Tunda Mudik, Selamatkan Keluarga di Kampung, yang disiarkan langsung di YouTube BNPB, Kamis (6/5/2021).

Adita juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terbujuk dengan travel gelap yang membuka jasa untuk membawa penumpang ke kampung halaman. Sebab, menurut Adita travel gelap adalah jasa transportasi yang melanggar Undang-Undang Lalu Lintas, yaitu kendaraan berpelat hitam yang membawa penumpang umum.

"Jelas ini akan dilakukan penindakan sesuai ketentuan, yaitu mobilnya ditahan. Kemudian, bisa saja nanti driver-nya dikenai tindakan, dan penumpangnya pasti juga akan dirugikan ini, dia bisa terkatung-katung," ujar Adita.

Adita menambahkan, ada beberapa alasan mengapa travel gelap bukan menjadi jawaban yang tepat untuk mudik. Alasan tersebut adalah travel gelap tidak memiliki jaminan asuransi, tidak ada protokol kesehatan, dan harganya yang jauh lebih mahal.

"Ini sekaligus kita ingatkan kepada masyarakat, jangan tergiur dan terbujuk oleh travel gelap. Karena dampaknya kepada kita sendiri akan berat, kita akan repot malah. Apalagi ketika tertangkap dan ditahan. Nah, ini yang menurut kami harus jadi perhatian," ucap Adita.

Sementara itu, juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan koordinasi peniadaan mudik dengan kementerian/lembaga sudah dilakukan 1 setengah bulan sebelum bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan agar pihak-pihak terkait berada di satu pemahaman yang sama.

"Mengingat pembelajaran di tahun lalu, setiap kali liburan termasuk Idul Fitri selalu meningkatkan kasus dalam jumlah yang cukup tinggi, bahkan bisa lebih dari 100%. Maka dari itu kita lihat, waktu yang paling critical untuk mudik kali ini 6-17 Mei, maka daripada itu kita atur peniadaan mudik pada tanggal tersebut," jelas Wiku.

(prf/ega)