Kontrovesi yang Dilakukan Nabi dan Sahabat (15)

Menegakkan HAM Secara Adil

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 07 Mei 2021 04:59 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Suatu ketika Nabi mendengarkan dua orang dari kaum Yahudi mau membangun sinagog di samping masjid Nabi, namun ditentang oleh sahabat. Setelah kasus ini dilaporkan kepada Nabi, lalu Nabi bertanya tanah itu milik siapa? Dijawab tanah mereka. Nabi mengatakan jangan dihalangi pembangunan rumah ibadah mereka, karena ibadah merupakan kebutuhan asasi setiap orang. Setelah kedua orang Yahudi itu membangun rumah ibadahnya, tiba-tiba mereka mendengarkan suara azan Bilal yang menyerukan orang untuk datang ke masjid meraih keberuntungan (hayya 'alal falah). Kedua orang Yahudi itu menghentikan usahanya membangun rumah ibadah karena tujuannya sama dengan yang apa yang ingin dicapai dari rumah ibadah yang akan dibangun. Bahkan keduanya menyerahkan tanah itu kepada Nabi.

Nabi bukan hanya melindungi dan memberikan hak-hak sosial-politik kepada umat non-muslim tetapi juga hak-hak asasi secara individual. Hak-hak asasi manusia yang ditegakkan Nabi antara lain, memberi hak-hak setiap warga Madinah sama dengan hak yang diperoleh umat Islam dalam memanfaatkan fasilitas umum, seperti penggunaan jalan raya, akses mata air, pengobatan, bantuan sosial, mengunjungi mereka ketika sedang sakit, mengurus jenazah mereka, sampai kepada memandikan mayatnya.

Anas ibn malik meriwayatkan ada seorang laki-laki Yahudi sedang sakit keras lalu Nabi diberitahukan akan keadaan itu. Selanjutnya Nabi membesuknya dan duduk di sanping pemuda itu. Nabi menawarkan seandainya pemuda itu berkenan untuk mengenal dan masuk agama Islam. Pemuda itu menatap ayahnya yang kebetulan ada di sampingnya. Ayahnya menyarankan agar anaknya mendengarkan seruan itu dengan mentakan: Dengarkanlah apa yang disampaikan oleh Abul qasim (Nabi), lalu pemuda itu mengucapkan dua kalimat syahadat. (HR. Bukhari). Betapa mulianya perbuatan Nabi menengok orang sakit umat beragama lain dan berusaha membantu meringankan bebannya. Tradisi seperti ini diwariskan kepada para sahabatnya.

Dalam kesempatan lain, ketika paman Nabi meninggal, yaitu Abu Thalib, yang sampai akhir hayatnya belum mengucapkan syahadat, maka nabi memerintahkan putranya, yaitu Ali ibn Abi Thalib, untuk mengurus jenazah ayahnya sampai pada penguburannya dengan baik. Pengalaman ini menjadi pelajaran buat kita semua bahwa mengurus mayat hukumnya wajib apapun agama mayat itu. Dalam kitab-kitab Fikih juga banyak disebutkan riwayat bahwa manakala ada mayat hanyut di sungai tidak ada yang mendamparkannya maka berdosa massal seluruh penghuni desa yang dilaluinya, karena mengurus jenazah apapun agama dan kepercayaanya wajib hukumnya, karena mayat itu hak Allah swt.

Pemberian hak-hak sosial kepada segenap warga tanpa terkecuali sejalan dengan apa yang difirmankan allah dalam al-Qur'an:
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Q.S. al-Mumtahinah/60: 8-9).

Ancaman Allah Swt bagi orang yang melecehkan hak-hak sosial orang-orang non-muslim ialah dianggap orang-orang yang lalim (al-dhalimun). Banyak lagi pengalaman Nabi dan para sahabat yang memberikan hak-hak sosial dan hak-hak politik terhadap orang-orang non-muslim. Dengan demikian, berbuat baik kepada sesama warga tanpa membedakan agama dan kepercayaan merupakan sunnah Rasul yang harus dipertahankan, khususnya kita sebagai Warga Negara Indonesia.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta


Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis

(erd/erd)