Curhat Saksi Nilai Harga Mahal Terkait Ekspor Benur

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 22:25 WIB
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta pada PN Jakpus. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP), Suharjito, mengaku tidak mendapat untung saat mengikuti program ekspor benih bening lobster atau benur di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP). Suharjito menyebut harga ekspor benur terlalu mahal.

Hal itu diungkapkan Suharjito di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (5/5/2021). Suharjito mengatakan biaya ekspor yang ditetapkan KKP Rp 1.800 per ekor. Menurut Suharjito, seharusnya biaya ekspor itu hanya Rp 300 per ekor.

"Iya Rp 300 per ekorlah menurut saya, memang sebelum itu (ekspor) kita berhitung sampai plastik-plastik kita itu kalau bisnis. Tenaga dan sebagainya kita hitung semua," kata Suharjito.

Suharjito mengaku kerap mendapat curhat dari pengusaha ekspor benur lainnya yang tergabung dalam grup Peduli. Menurut Suharjito, dia hanya pernah untung satu kali sebesar Rp 40 juta.

"Cerita keluh kesah (di grup Peduli) BBL ini nggak untung. Saya pernah punya untung Rp 40 juta," kata Suharjito.

Suharjito mengaku alasannya tetap mengikuti program ekspor benur ini karena penasaran dengan budidaya benur. Dia mengaku ingin mencoba hal baru selain tambak udang.

"Karena itu nggak ada suatu pilihan. Karena waktu saya ketemu Chandra Astan (Direktur PT Graha Food Indo Pacific) di kantor saya, banyak yang dibicarakan waktu itu dia ketua asosiasi Peduli jadi keluhan-keluhan anggota pasti di dia. Dia bilang (harga ekspor) PT ACK sudah komitmen sama KKP harganya Rp 1.800 per ekor," ucap Suharjito.

Selain Suharjito, saksi yang merupakan istri dari Sidwadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Neti Herawati, juga mengaku mendapat keluhan terkait harga ekspor benur. Harga ekspor disebut terlalu mahal.

"Ya ada yang bilang kemahalan, saya juga nggak tahu gimana ceritanya akhirnya ditetapkan menjadi Rp 1.800 per ekor," kata Neti dalam sidang.

Dalam sidang ini, Edhy Prabowo dkk duduk sebagai terdakwa. Dia didakwa menerima uang suap yang totalnya mencapai Rp 25,7 miliar dari pengusaha eksportir benih bening lobster (BBL) atau benur. Jaksa mengatakan Edhy menerima uang suap dari beberapa tangan anak buahnya.

Edhy Prabowo didakwa bersama stafsus dan Ketua Tim Uji Tuntas Perizinan Budi Daya Lobster Andreau Misanta Pribadi, dan Safri selaku stasfus Edhy dan Wakil Ketua Tim Uji Tuntas, Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Iis Rosita Dewi, serta Sidwadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK).

(zap/idn)