Pertemuan Dua Menteri dengan Majelis Agama Batal
Kamis, 09 Mar 2006 20:00 WIB
Jakarta - Setelah lama menunggu, pertemuan antara Menteri Agama (Menag) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dengan majelis-majelis agama akhirnya dibatalkan. Para delegasi akhirnya berbarengan meninggalkan tempat pertemuan setelah mendapat kabar bahwa kedua menteri masih akan lama membahas kasus Poso di Komisi III DPR. Pertemuan ini rencananya untuk mendengarkan penyampaian Menag dan Mendagri mengenai Peraturan Bersama Menteri tentang Kerukunan Umat Beragama. Karena bosan menunggu dua menteri tersebut, para delegasi tersebut akhirnya meninggal lokasi pertemuan pada pukul 15.30 WIB. Jadwal pertemuan ini semula direncanakan pukul 14.00 WIB. Pertemuan dilangsungkan di Gedung Departemen Agama, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (9/3/2006). Tokoh agama yang hadir antara lain KH Ma'ruf Amien dan Zaidan Djauhari dari MUI (Islam), Marthin Hutabarat dan Lodewijk Gultom dari PGI (Kristen), Maria Farida dan Vera Weni Sumarwi dari KWI (Katolik), Nengah Dana dan Agusmantik dari PHDI (Hindu), Suhadi dan Sudjito Kusumowihardjo dari Walubi (Budha). Sementara dari Depag hadir antara lain, Kabalitbang Depag Atho Mudzhar.Menurut Atho, apabila tidak ada masalah, revisi SKB akan ditandatangani oleh dua menteri pada hari ini juga. "Kalau semua cocok akan diteken hari ini juga. Majelis agama telah memberi catatan kepada dua menteri, dan kedua menteri sudah mempelajarinya," ungkap Atho. Sementara Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin menjelaskan, alotnya pembahasan revisi SKB disebabkan masalah substansial terkait pendirian rumah ibadah. Dalam revisi itu, pendirian rumah ibadah dapat dilakukan apabila dalam suatu lingkungan terdapat anggota minimal 100 orang pemeluk agama tertentu. Namun, tokoh agama dari Kristen dan Katolik meminta agar jumlah pemeluk agama tertentu di suatu lingkungan terkait pendirian rumah ibadah lebih diperkecil lagi. "Dulu dari 250 orang menjadi 150 orang kemudian minta 100 orang. Sekarang minta turun lagi. Akhirnya disepakati 90 orang namun minta turun lagi. Namun 90 orang final. Kita tidak mau turun lagi," kata Ma'ruf.
(ary/)











































