Operator Selular 'Jemput Bola' di Blok Cepu

Operator Selular 'Jemput Bola' di Blok Cepu

- detikNews
Kamis, 09 Mar 2006 19:50 WIB
Operator Selular Jemput Bola di Blok Cepu
Surabaya - Ada yang aneh di desa sekitar sumur minyak Banyuurip di Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Bagaimana tidak, di kecamatan berpenduduk 71 ribu jiwa ini hampir semua sinyal operator selular ditangkap dengan jernih tanpa ada blank spot.Padahal jika melihat letak geografis dan tingkat sosial dibandingkan daerah serupa di tempat lain sangat tidak masuk akal. Untuk menuju ke lokasi minyak di Desa Mojodelik saja harus melalui jalan bebatuan sejauh 7 kilometer dengan hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.Sebagai perbandingan, di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, Lamongan, tempat tinggal terpidana mati terorisme Amrozi, sangat sulit untuk berkomunikasi dengan handphone. Padahal lokasinya juga tak jauh beda dengan Ngasem.Atau di kawasan Wisata Waduk Pacal Temayang Bojonegoro. Secara merata seluruh sinyal leluler lenyap, alias tulalit.Menariknya, pengamatan detikcom di Desa Mojodelik, Berabuwan, Benorejo dan Gayam sangat jarang ditemui penduduknya yang menggenggam telepon seluler GSM maupun berbasis CDMA. Kalaupun ada hanya beberapa saja, sebagian besar tokoh masyarakat maupun pamong desa. Detikcom yang mengamati secara teliti sama sekali sulit menemui warga yang sedang bercakap-cakap melalui handphone.Melihat kenyataan ini, nampaknya operator seluler jauh-jauh hari sudah pasang kuda-kuda untuk menjaring pelanggannya. Sebab, di Kecamatan Ngasem dan tetangganya Kecamatan Kalitidu tak lama lagi akan hinggar bingar seiring pelaksanaan proyek migas Blok Cepu yang nilai investasinya mencapai Rp 27 triliun.Kalaupun ada yang memiliki handphone, tetap saja mempertimbangkan nilai pulsa yang memang lebih mahal dibandingkan telepon rumah. Sehingga pilihannya jatuh ke CDMA.Contohnya saja, Kepala Desa Bonorejo Ahcmad Aksan. Dia lebih sreg menggunakan Flexi daripada GSM. Alasannya pulsanya murah. "Tapi tetap bawa GSM juga. Cuma kalau telpon telponan pakai Flexi, lebih irit," terang Askan saat ditemui detikcom dirumahnya, Kamis (9/3/2006).Bayangkan, seorang kepala desa saja harus melakukan penghematan dalam berkomunikasi melalui handphone apalagi rakyatnya.Suwito, seorang petni di Desa Mojodelik mengaku sama sekali tidak bisa menggunakan handphone. Selama ini ia hanya tahu dari milik para pamong desa maupun tokoh LSM setempat."Buat apa mas bawah seperti itu. Wong kerja saya sehari-hari di sawah kok," jawabnya dengan nada lugu. Begitupula, Marno, pemuda lulusan SMA Kalitidu yang saat ini wiraswasta di desa Gayam. Ia mengaku belum membutuhkan handphone karena dirasa belum membutuhkan."Barangkali nanti diterima di proyek minyak ya saya beli. Kalau sekarang uang untuk beli pulsanya dari mana?" katanya balik bertanya.Realitas di lapangan ini menunjukan memang para operator selular jeli melihat peluang. Mereka rela merogoh kocek untuk mendirikan BTS (Base Transmisi Station) di sejumlah desa yang berada disekitar sumur minyak sejak tahun lima tahun lalu. "Saya pakai handphone sejak tahun 2001 lalu. Tapi tidak semua operator bisa di sini. Hanya dua saja yang jernih," jelas Parmani, Guru Bahasa Indonesia SMP Kalitidu yang tinggal di Desa Berabuwan sambil menyebut nama operator selular yang sinyalnya kuat.Ia menduga, dua operator ini sengaja membidik tenaga kerja proyek migas nantinya. Karena proyek tersebut nantinya membutuhkan jumlah tenaga kerja yang cukup banyak. "Barangkali mereka jemput bola. Warga sih senang-senang saja ada sinyal," duga Parmani.Detikcom yang keliling Desa Mojodelik, Berabuwan, Bonorejo, Gayam dan lainnya sama sekali tidak kesulitan untuk mendapatkan sinyal. "Jangan kuatir, handphone bisa kring di semua desa di sini," terang Parmani.Ia memprediksi nantinya ketika proyek sudah berjalan,bisa dipastikan semua operator selular akan berebut masuk. "Disini nanti pusat perputaran uang yang jumlahnya tidak sedikit," tandasnya. (ary/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads