Jazilul Fawaid Harap Hafidzah Fatayat NU Bisa Jadi Penjaga Alquran

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 11:05 WIB
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengapresiasi kehadiran Ikatan Hafidzah Fatayat Nahdlatul Ulama (IHF NU) sebagai lembaga baru. Ia berharap lembaga yang dibentuk oleh PP Fatayat NU ini mampu menjadi bagian dari penjaga Alquran

"Saya mengapresiasi Fatayat NU ini melahirkan badan Ikatan Hafidzah Fatayat NU. Hafidzah itu diambil dari ayat 'inna nahnu nazzalna adzzikra wanna lahu lahafidhun'. Hafidzah itu menjaga, pelestari, tapi disebut penghafal Alquran," ujar Jazilul dalam keterangannya, Rabu (5/4/2021).

Menurut Jazilul, sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama muslim, saat ini Indonesia memiliki jumlah hafid atau hafidzah terbesar di dunia, mencapai sekitar 30.000 orang.

Namun, dibandingkan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 271 juta jiwa, jumlah penghafal Alquran tergolong masih kecil. Di sisi lain, separuh lebih atau sekitar 63% penduduk muslim Indonesia ternyata belum bisa membaca Alquran secara baik dan benar.

"Kalau Fatayat NU pasti bisa. Artinya IHF ini kelompok kecil. Kalau yang tergabung di Fatayat ada 300-an yang menjadi hafidzah, itu luar biasa. IHF ini sekadar pakunya agar Alquran lestari, terjaga," tutur Jazilul.

Jazilul menceritakan sebuah kisah pada pada zaman nabi dan sahabat, Alquran tidak dibukukan melainkan dihafalkan. Hingga ketika banyak para penjaga Alquran terbunuh, kemudian Alquran dibukukan.

"Alquran pada masanya itu dihafal, bukan ditulis. Yang ditulis itu mushaf Alquran pada masa Sahabat Usman, tapi dikumpulkan pada masa Umar Bin Khattab," katanya.

Menurut Jazilul, para hafid dan hafidzah adalah orang-orang mulia karena di memori otaknya ada 'chip' data Alquran. Untuk itu mereka harus dijaga, sebab menurut Jazilul susunan otak mereka paling rumit.

Ia juga berharap agar Fatayat NU bisa terus menjadi bagian dari penjaga Alquran.

"Ini langkah hebat dan semoga berkah. Mudah-mudahan yang tergabung menjadi benar-benar seperti yang ada dalam mars Fatayat, yakni menjadi harapan bangsa, agama dan keluarga sehingga bisa membina keluarga yang sehat, sholeh dan sholihah," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini berharap agar para kader Fatayat NU bisa membumikan nilai-nilai Alquran dan mengajarkan pada masyarakat. Dia juga berharap IHF bisa menjadi organisasi yang terus berkembang hingga ke tingkat wilayah bahkan ranting. Dengan begitu, bisa membuat program yang bisa dinikmati masyarakat.

"Yang paling menjadi tantangan kita, 71 tahun usia Fatayat, menuntut kita mempunyai kompetensi yang tepat dalam menjawab tantangan tersebut. Kita punya IHF, kita juga harus punya alternatif atau inovasi program, misalnya kita punya kelas hafid yang memang sekarang sangat dirindukan masyarakat," jelas Anggia.

"Sangat senang ke depan kita berharap IHF punya program yang dinantikan masyarakat lebih luas, seperti Gerakan Satu Hari Satu Jus," tambahnya.

Ketua IHF Chalimatus Sa'diyah menambahkan IHF merupakan lembaga rintisan yang dibentuk agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

"IHF ini perangkat yang dibentuk Fatayat NU di setiap tingkatan untuk pengembangan dan pembelajaran Alquran," tandasnya.

Dosen Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta ini mengatakan, lembaga ini dibentuk dengan tiga tujuan utama. Pertama, untuk membangun silaturahmi yang efektif antar para hafidzah Fatayat NU yang memiliki kiprah dakwah langsung ke masyarakat.

Selain itu, lanjutnya, juga agar terwujud jejaring dan kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat mendukung penyebaran nilai-nilai Alquran dalam bingkai ajaran Ahlussunnah Annahdliyah.

"Ketiga adalah terwujudnya program yang berkelanjutan dalam mensyiarkan dan menghidupkan nilai-nilai Alquran di tengah masyarakat," imbuhnya.

(ega/ega)