Transplantasi Organ Tubuh dalam Islam, Cek Fatwanya!

Novia Aisyah - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 17:13 WIB
donor organ untuk transplantasi
Foto: thinkstock/Transplantasi Organ Tubuh dalam Islam, Cek Fatwanya!
Jakarta -

Hukum transplantasi organ tubuh dapat ditempuh melalui pertimbangan sesuai aspek syar'i. Terkait dengan hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwanya sejak tahun 2019 lalu.

Sebelum fatwa tentang transplantasi organ ini dikeluarkan, MUI juga telah mengeluarkan beberapa fatwa lain, beberapa di antaranya adalah:

- Fatwa MUI nomor 11 Tahun 2007 tentang Pengawetan Jenazah untuk Kepentingan Penelitian
- Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2007 tentang Penggunaan Jenazah untuk Kepentingan Penelitian
- Fatwa MUI Nomor 6 Tahun 2009 tentang Otopsi Jenazah
- Fatwa MUI 13 Juni 1979 tentang wasiat menghibahkan kornea mata
- Fatwa MUI nomor 30 tahun 2013 tentang Obat dan Pengobatan
-dan sebagainya.

Dalam fatwa MUI nomor 11 tahun 2019, demi mempertimbangkan menjaga kesehatan, maka MUI mengeluarkan fatwa tentang diperbolehkannya hukum transplantasi organ tubuh yang ditempuh melalui pertimbangan aspek syar'i.

Sebagai dasar, MUI menggunakan hadis Nabi Muhammad SAW, kaidah Fiqhiyah, dan firman Allah SWT.

Salah satunya yang terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 207:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Restu MUI untuk melakukan transplantasi organ tersebut diperbolehkan dengan menimbang beberapa hal sebagai berikut:

1. Terdapat kebutuhan yang memang dibenarkan secara syar'i, baik pada tingkatan al hajah maupun ad dharurah

Al hajah sendiri menurut MUI adalah segala kebutuhan mendesak secara umum yang tidak sampai pada batasan dharurah syar'iyah.

Sedangkan ad dharurah adalah bahaya yang amat berat pada seseorang, sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan adanya kerusakan jiwa, anggota tubuh, kehormatan, dan yang berhubungan dengannya.

2. Tidak membahayakan diri sendiri

3. Transplantasi dilakukan oleh ahlinya

Transplantasi organ yang dilakukan ini juga tidak boleh dilakukan untuk kepentingan yang sifatnya adalah tahsiniyat.

Tahsiniyat adalah kepentingan yang tidak sampai dalam batasan al hajah atau ad dharurah.

Terakhir, MUI juga menambahkan bahwa hukum transplantasi organ tubuh ini nantinya masih dapat diubah atau diperbaiki sebagaimana mestinya.

(nwy/nwy)