Satgas Selidiki Varian COVID-19 Afsel-Inggris yang Ditemukan di Bali

Sui Suadnyana - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 14:36 WIB
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render
Ilustrasi COVID-19 (Getty Images/BlackJack3D)
Denpasar -

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Provinsi Bali mulai melakukan penyelidikan temuan virus Corona (COVID-19) varian Afrika Selatan (Afsel) dan Inggris yang sebelumnya terkonfirmasi di RSUP Sanglah, Bali. Satgas mendalami kontak erat para pasien COVID-19 varian baru tersebut.

"Terkait kasus ini, Dinas Kesehatan Provinsi Bali sedang melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap sejumlah orang yang melakukan kontak erat dengan korban sehingga akan diketahui potensi risiko penyebarannya secara detail dan lengkap," kata Gubernur Bali Wayan Koster dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (4/5/2021).

Koster menuturkan telah mendapat informasi langsung dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahwa telah ditemukan dua orang positif COVID-19 yang terinfeksi varian baru mutasi virus COVID-19. Informasi tersebut didapatkan Koster pada 3 Mei 2021.

"Satu orang mengalami positif akibat penularan varian baru dari Afrika Selatan dengan kode B.1.351. Sedangkan satu orang positif akibat penularan varian baru dari Inggris dengan kode B.1.1.7," jelasnya.

Hal ini, kata Koster, diketahui setelah beberapa sampel dari orang positif COVID-19 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah. Sampel ini dilakukan pengujian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

"Satu orang yang positif COVID-19 dengan varian baru dari Afrika Selatan telah dinyatakan meninggal di RS Sanglah berasal dari Kabupaten Badung. Korban memang belum mengikuti program vaksinasi," kata dia.

Sementara itu, satu orang lagi yang positif COVID-19 dengan varian baru dari Inggris dinyatakan sembuh, dalam kondisi sehat, dan sudah dipulangkan. Pasien yang berasal dari Kota Denpasar ini telah mengikuti program vaksinasi sebanyak dua kali.

Terkait adanya penemuan dua kasus varian baru Corona ini, Koster menginstruksikan bupati/wali kota, camat, kepala desa/lurah, dan bandesa adat se-Bali serta seluruh komponen masyarakat untuk melakukan upaya serius untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Simak selangkapnya di halaman selanjutnya.

Sementara itu, semua sampel uji yang positif Corona di Bali selama Mei 2021 bakal dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan. Hal itu dilakukan buntut dari penemuan virus Corona varian baru di Bali, yakni di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.

"Ini di dalam satu bulan Mei ini, semua kasus positif yang ada di daerah di mana kasus itu ada, itu akan dikirim ke Litbangkes. Karena yang bisa melakukan (whole) genome sequencing hanya di Litbangkes. Jadi sampelnya kita kirim ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Selasa (4/5).

Seperti diketahui, terdapat dua orang yang terjangkit varian baru Corona di Bali. Satu di antaranya mengalami positif akibat penularan varian baru dari Afrika Selatan dengan kode B.1.351. Sedangkan satu orang positif akibat penularan varian baru dari Inggris dengan kode B.1.1.7.

Satu orang yang positif COVID-19 dengan varian baru dari Afrika Selatan berasal dari Kabupaten Badung. Pasien ini telah dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah.

Sementara itu, satu orang lagi yang positif COVID-19 dengan varian baru dari Inggris dinyatakan sembuh. Pasien yang berasal dari Kota Denpasar ini sudah dalam kondisi sehat dan sudah dipulangkan.

Suarjaya menuturkan pasien yang terkena varian baru Corona Afrika Selatan belum mengikuti program vaksinasi. Berbeda dengan yang terkena varian baru Inggris, sudah mengikuti vaksinasi sebanyak dua kali.

"Satu kasusnya meninggal, dia tidak divaksin. Yang kedua sembuh, sudah divaksin dua kali. Artinya, vaksinasi merupakan satu cara untuk melindungi diri. Tentu dengan adanya varian baru ini kita harus hati-hati, waspada karena (penularannya) lebih kuat, cepat, mematikan. Pasti begitu karena dia mutasi virus ini," terangnya.

Terkait hal ini, Suarjaya mengatakan pihaknya telah melakukan contact tracing terhadap keluarganya. Contact tracing ini telah dilakukan saat pasien tersebut diketahui positif Corona. Namun saat itu, pasien belum diketahui terkena varian Corona jenis baru.

"Waktu dia posisi sebelum kita tahu bahwa dia memang (terkena) varian baru (kita lakukan contact tracing) sesuai dengan standar SOP-nya. Kan kita sudah tracing dan memang satu keluarganya kena. Dari kasus sudah meninggal ini, (keluarganya) positif tapi tidak sampai meninggal dia, sembuh dia," terang Suarjaya.

(nvl/nvl)